Ahli Beri Penjelasan Dampak Positif Sunat Dewasa

by -18 views

Jamaninfo,  Jakarta : Sunat atau khitan di Indonesia kerap dilakukan saat anak laki-laki berusia kisaran 5 tahun sampai 12 tahun.

Sirkumsisi atau sunat merupakan operasi pengangkatan sebagian atau semua dari prepusium (kulup).

Namun,  banyak masyarakat yang masih merasa sebuah keanehan jika sunat dilakukan oleh pria dewasa. Padahal praktisi kesehatan seksual dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS menjelaskan sejumlah dampak positif sunat. 

Khususnya sunat bagi orang dewasa. Di antaranya adalah mengurangi risiko tertular penyakit menular untuk pasangannya. 

Bahkan menurut Boyke, banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan.

’’Pada pria yang tidak disirkumsisi (ada potensi, Red) didapatkan virus HPV,’’ kata Boyke dalam webinar bertema ‘Menelisik Sunat Bagi Pria Dewasa’ Kamis (8/4/2021) malam.

Boyke menjelaskan virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual (PMS), bahkan virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker. 

Selain itu Boyke mengatakan pada pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri, atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya.

“Sebab dalam kondisi normal kepala penis pria yang tidak disunat tertutup kulup atau kulit. Butuh perawatan khusus, seperti pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat,” ujar Boyke. 

Tak hanya itu,  ia mengungkapkan ada sejumlah pasangan perempuan yang khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya.

Selain itu Boyke juga mengatakan kaitan antara sunat dengan resiko tertular HIV. Dia mengungkapkan hasil penelitian di Uganda, Afrika Selatan, dan Namibia, resiko penularan HIV pada pria yang disunat lebih kecil dibandingkan pria yang tidak disunat. 

’’Artinya memang benar  sirkumsisi itu merupakan salah satu cara untuk indikasi kebersihan dan kesehatan. Bukan atas indikasi fungsi seksual,’’ tuturnya.

Pada kesempatan yang sama,  Ketua PP Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia Prof Andi Asadul Islam mengatakan saat ini ada beragam jenis metode sunat atau sirkumsisi. 

Menurutnya justru yang paling aman adalah dengan menggunakan metode konvensional.

“Sebab dengan metode ini, praktisi sunat bisa melihat langsung bagian kepala penisnya. Sehingga mengetahui dengan pasti lapisan kulit yang dipotong,” kata Andi. 

Namun, diakui Andi,  meski relatif paling aman, namun sunat menggunakan metode konvensional membutuhkan proses penyembuhan yang relatif lebih lama dibandingkan lainnya. 

Dia menjelaskan di Indonesia mayoritas sunat dilakukan pada usia 5 sampai 12 tahun. 

’’Bahkan ada yang masih bayi disunat,’’ tandasnya. 

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…