Banjir Kalsel karena Cuaca Ekstrem

by -15 views
Berita Terkini

, Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan banjir yang melanda 10 kabupaten di Kalimantan Selatan, khususnya yang terbesar Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tanah Laut, lantaran kondisi infrastruktur ekologisnya, yaitu Jasa Lingkungan Pengatur Air sudah tidak memadai sehingga tidak bisa lagi menampung aliran air yang masuk.

 “Ketinggian antara 0,5 meter hingga satu dan dua meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai lima meter. Banjir terjadi dari tanggal 10 Januari, bahkan hingga hari ini. Hanya ada dua kabupaten yang terbebas (dari banjir), yaitu Tabalong dan Kota Baru,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Karliansyah, saat menggelar konferensi pers secara virtual, Selasa (19/01/2021).

Penyebab banjir, lanjut Karliansyah, terjadi di alur DAS Barito, khusus di Kalsel, karena cuaca ekstrem.

“Di lapangan kita hanya mengenal Sungai Amandit, Sungai Balangan, Martapura, tapi itu semua bagian dari DAS Barito,” ujar Karliansyah.

“Kami mencatat, misalnya pada Januari 2020 curah hujan normal itu 394 milimeter. Yang kami catat dari data BMKG tanggal 9 sampai 13 Januari 2021 itu 461 mm selama lima hari. Artinya, delapan hingga sembilan kali dari curah hujan yang normal,” sambungnya.

Dengan demikian, volume air yang masuk ke sungai itu luar biasa. Jadi, dari perhitungan ada sekitar sekitar 2,08 miliar meter kubik yang masuk dibandingkan kondisi normal yang hanya 238 juta meter kubik.

Karliansyah mencontohkan, di Kabupaten Tanah Laut, debit sungai 645,56 meter kubik per detik. Sementara bisanya hanya 410,73 meter per kubik per detik.

“Di kabupaten Banjar juga sama dari kapasitas 47,99 meter kubik per detik yang terjadi adalah 211,59 meter kubik per detik. Kemudian di Hulu Sungai Tengah itu tercatat mencapai 333,79 meter kubik per detik. Padahal, kapasitasnya hanya 93,42 meter kubik per detik,” ujar Karliansyah.

Selain itu, menurut Karliansyah, pihaknya juga mendapat evaluasi bahwa sistem drainase juga tak mampu mengalirkan air yang sangat besar itu. Daerah banjir itu pun berada di titik pertemuan dua anak sungai yang cekung dengan volume air yang sangat besar.

“Berdasarkan peta, lokasi banjir terlihat sekali itu umumnya berada di daerah yang datar (flat) dan bermuara di laut yang merupakan daerah akumulasi air dengan tingkat drainase yang rendah,” tandasnya.

Sumber Berita Selengkapnya…