BUMN Siap Tingatkan Perekonomian dari Tata Kelola EBT

by -17 views

Jamaninfo, Jakarta: Pemerintah melalui sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Energi, terus mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam memulihkan ekonomi Indonesia yang tertatih melawan Covid-19. Nantinya EBT akan mendorong pembangunan ekonomi jangka panjang yang stabil, mengurangi emisi gas rumah kaca dan menciptakan lapangan kerja. 

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman P Hutajulu menuturkan, pemerintah terus mendorong terwujudnya ketahanan energi nasional. Dengan menuangkannya dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014. Ketahanan energi, menurut Jisman, merupakan suatu kondisi ketersediaan energi, akses masyarakat terhadap energi dengan harga terjangkau dalam jangka panjang dengan memperhatikan aspek perlindungan lingkungan hidup. 

“Akses kita telah memiliki untuk menjangkau masyarakat tidak hanya di kota, tetapi juga mereka yang berada di pinggiran,” ujar Jisman dalam webinar bertajuk “Energi Bangkitkan Ekonomi di Tengah Pandemi”, di Hotel Aston Kartika Grogol, Jakarta, Rabu (24/11/2020)1). Selain itu narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni  Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Webinar dimoderatori oleh Redaktur Pelaksana Indoposco, Ali Rachman. 

Sektor energi masih menjadi salah satu, andalan penopang ekonomi masyarakat dan negara di tengah kelesuan roda ekonomi dunia akibat hantaman pandemi Covid-19. Pemerintah juga berupaya menciptakan pasar energi terbarukan melalui program renewable energy-based industry development dan renewable energy-based economic development. 

Listrik yang terjangkau oleh masyarakat, akan mendorong pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan industri dan tidak membebani masyarakat. Selain ada ketersediaan energi, juga harus ramah lingkungan. 

“Kondisi kelistrikan nasional ada tiga siaga di Bangka, Manokwari dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Jisman. 

Untuk Bangka, lanjutnya, mengalami pengurangan. Kendati pemerintah tengah menyiapkan kabel laut untuk mensuplai listrik ke Bangka. Yang diperkirakan energi akan bertambah dua kali lipat untuk wilayah Bangka. 

“Kita tengah kebut untuk kabel bawah laut dan nanti bisa mensuplai 2 kali lipat energi ke Bangka. Demikian pula Manokwari dan NTT,” ungkap Jisman 

Ia menyebut energi listrik saat ini ada 73,7 gigawatt dengan kepemilikan oleh PLN 60 atau 43 gigawatt. Untuk jenisnya sendiri ada 50 persen PLTU atau 37 gigawatt, PLTG 28 persen, PLTD 7 persen, EBT 11 persen. 

“Untuk rasio elektriikasi 100 persen di 2022, saat ini baru 99,4 persen, kami melaksanakan program bantuan pasang baru listrik (PBL) 450 VA bagi rumah tangga miskin,” ujar Jisman. 

Program tersebut dirancang untuk mempercepat pemanfaatan EBT di kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) serta mendukung pengembangan ekonomi lokal di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar). 

Pada pembukaan webinar yang didukung oleh PT Pertamina, Pemimpin Redaksi Indoposco Juni Armanto mengucapkan terima kasih kepada narasumber yang telah hadir dalam acara daring tersebut. ia berharap dari acara tersebut menghadirkan pointer-pointer yang berguna bagi pembangunan Indonesia. 

“Bicara energi bagi kalangan media menjadi isu yang menarik untuk dikupas. Sebab, energi memiliki peranan penting dalam pembangunan di Indonesia,” kata Juni.

Menurut dia, pandemi telah menghantam perekonomian di Indonesia. Dengan pertumbuhan energi baru terbarukan bisa mendongrak pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, defisit neraca dagang disumbang oleh sektor migas. Karena tingkat impor untuk sektor tersebut tinggi. Kendati hingga 2050 nanti Indonesia masih bergantung pada fosil. 

“Secara paralel EBT harus dikembangkan, tetapi tidak bisa kemudian selamat tinggal fosil,” katanya. 

Ia menyebut, target EBT di 2025 mencapai 23 persen. Tentu sisanya 25 persen dari minyak bumi dan batubara 30 persen. Indonesia, menurut dia, memiliki potensi panas bumi yang luar biasa. Kendati, data pemerintah tingkat konsumsi energi di 2050 tertinggi dari fosil. 

“Pengembangan EBT harus terus didorong, tapi jangan kemudian percepatan ini langsung meninggalkan fosil. Karena sampai 2050, data pemerintah konsumsi masih besar dari fosil. Ini untuk apa? Agar tidak membebani neraca ekonomi kita,” katanya.

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…

No More Posts Available.

No more pages to load.