[Cek Fakta] Pemerintah New Zealand Mengizinkan Euthanasia

by -19 views

Jamaninfo, Jakarta: Beredar sebuah informasi bahwa pasien COVID-19 dapat meminta euthanasia apabila dokter memutuskan mereka tidak akan selamat, serta hal tersebut tentu akan meningkatkan angka kematian bagi pasien COVID-19. 

Pengguna Twitter tersebut mengutip dari artikel Catholic Herald yang diunggah pada 20 Desember lalu. Unggahan tersebut telah dibagikan ulang sebanyak lebih dari 2,500 kali. 

Namun saat ditelusuri, Pihak resmi menteri kesehatan New Zealand meluruskan tuduhan tersebut. Blair Cunningham, penasihat senior untuk Kementerian Kesehatan New Zealand, mengungkapkan kepada Reuters bahwa euthanasia tidak secara spesifik ditujukan kepada pasien COVID-19.

Selain itu, Blair Cunningham juga menyatakan bahwa layak atau tidaknya seseorang untuk melakukan euthanasia ditentukan secara case-by-case. 

Pasien COVID-19 bisa masuk dalam kategori layak untuk euthanasia, namun tidak semua. Dibutuhkan paling tidak dua dokter dan seorang psikiater yang memberikan laporan resmi bahwa seorang pasien boleh meminta euthanasia.

Informasi dengan topik yang sama juga pernah dibahas sebelumnya oleh Reuters dengan judul ¡°Fact Check ¨C New Zealand has not approved euthanasia specifically for COVID-19 patients¡±.

Dengan demikian, informasi yang disebarluaskan oleh akun Twitter @calvinrobinson (Calvin) tersebut dikategorikan sebagai konten yang menyesatkan karena kelayakan euthanasia yang dijelaskan dalam the ¡°End of Life Choice Act 2019¡± digunakan untuk membungkus sebuah isu.

Maka dapat disimpulkan jika informasi bahwa pasien COVID-19 dapat meminta euthanasia adalah salah atau tidak benar. 

Faktanya, Kementerian Kesehatan New Zealand tidak mengizinkan euthanasia secara spesifik untuk pasien COVID-19 di New Zealand. Pasal The End of Life Choice Act 2019 yang resmi dilegalkan pada 7 November 2021 tidak secara spesifik merujuk untuk pasien COVID-19.

Referensi:

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…

No More Posts Available.

No more pages to load.