Deforestasi Bukan Penyebab Banjir Kalsel

by -15 views
Berita Terkini

, Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui adanya pengurangan luas hutan di Kalimantan dalam 10 tahun terakhir. Namun, hal itu menurut Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan KLHK, Belinda Amargono, bukan menjadi penyebab banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Kita jelaskan Kalimantan. Grafik besar itu yang hijau kondisi hutan. Memang hutan ada yang naik karena biasanya ada hutan tanaman,” kata Belinda, dalam keterangan pers secara virtual, Selasa (19/01/2021).

Belinda juga merespons adanya gambar peta proyeksi deforestasi di Pulau Kalimantan yang ramai dibagikan masyarakat melalui media sosial yang dituding menjadi penyebab banjir yang terjadi di Kalsel.

“Yang muncul beberapa waktu lalu di berbagai media, saya tidak tahu sumber dari mana dan penjelasan data itu dibuat pendekatan seperti apa, metodologi seperti apa. Ini kami jelaskan adalah hasil pemantauan. Jadi tidak ada gunakan model atau estimasi, jadi ini riil. Dan dengan menggunakan data riil, kondisi yang ada, untuk Pulau Kalimantan, tidak seperti di medsos,” kata Belinda, sembari menunjukkan peta tutupan hutan Kalimantan pada 1990 hingga 2019.

Menurut Belinda, pada 1990, luas tutupan hutan mencapai lebih dari 35 juta ha, namun di 2019, jumlahnya menyusut hingga menjadi 25 juta ha. Sedangkan proporsi kawasan hutan dan non-hutan, katanya, saat ini hampir sebanding.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai KLHK Saparis Soedarjanto mengatakan penyebab banjir di Kalsel bukan hanya akibat faktor pengurangan tutupan hutan. Pihaknya telah melakukan analisa bahwa banjir di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan disebabkan oleh berbagai faktor.

“Contohnya, banjir di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah terjadi karena faktor lokasi, bentuk daratan, curah hujan, dan aktivitas sekitar,” kata Saparis.

Kedua wilayah itu, lanjut Saparis, juga berada pada pertemuan dua anak sungai sehingga akumulasi air yang berkumpul di sana besar. Kedua anak sungai bertemu di lereng kaki dan tekuk lereng.

“Kondisi ini diperparah dengan curah hujan yang sangat besar dan berdurasi lama. Kemudian, lereng pada hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) menerima volume air besar dengan waktu konsentrasi cepat,”jelasnya.

Dengan kombinasi pertanian lahan kering campur di bagian hulu dan tambang dengan lereng yang curam, serta kegiatan pertambangan di lereng tengah akhirnya menyebabkan sedimentasi di alur sungai yang berujung banjir.

“Kami sudah lakukan upaya rehabilitasi juga. Kalau kita lihat [kawasan hutan] yang kritis ini kan enggak kritis-kritis amat sebetulnya. Sehingga kita bisa simpulkan, hujan adalah faktor utama yang menyebabkan banjir. Tinggi sekali hujannya,” ujarnya.

Berdasarkan sejumlah analisa dan pengamatan langsung di lapangan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehuatanan (KLHK) memberikan rekomendasi yang harus dilakukan untuk mengurangi banjir seperti yang terjadi di Kalimantan Selatan(Kalsel).

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Karliansyah mengatakan rekomendasi tersebut seperti pembuatan bangunan konservasi tanah dan air, mempercepat dan memfokuskan kegiatan RHL di daerah sumber penyebab banjir, pembuatan bangunan-bangunan pengendali banjir.

“Hingga terobosan terkait konservasi tanah dan air, dan pengembangan sistem peringatan dini,” kata Karliansyah.

Sebelumnya, banjir yang menggenang wilayah Kalimantan Selatan memunculkan perdebatan di kalangan aktivis lingkungan dan masyarakat. Mereka menduga deforestasi Kalimantan jadi penyebab utama.

Sebagai informasi, peta hutan Kalimantan yang beredar di media sosial adalah proyeksi deforestasi yang diungkap PEACE (Pelangi Energi Abadi Citra Enviro) pada 2007 dalam studi berjudul “Indonesia and Climate Change: Current Status and Policies”.

Studi memprediksi angka deforestasi di Kalimantan bisa mencapai 2 juta per tahun. Mengacu pada data KLHK, deforestasi tahun 2018-2019 tercatat seluas 462,4 ribu hektare (netto), tahun 2017-2018 seluas 439,4 ribu ha, tahun 2016-2017 seluas 479 ribu ha dan 2015-2016 seluas 630 ribu ha.

Sumber Berita Selengkapnya…