Empat Tantangan Paska Merger Pelindo Menurut SCI

by -45 views

JMOL. Merger keempat Pelabuhan Indonesia (Pelindo) secara resmi terlaksana pada Jumat (1/10/2021) dengan penandatanganan akta penggabungan keempat BUMN layanan jasa pelabuhan itu. PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) menjadi surviving entity dengan peleburan ketiga perusahaan persero lainnya tersebut.

Total aset penggabungan Pelindo I, II, III, dan IV di atas ditaksir mencapai Rp 112 triliun dengan pendapatan Rp 28,6 triliun. Pelindo hasil merger ini tercatat menangani kontainer 16,7 juta TEUs per tahun, sehingga masuk dalam 10 besar operator kontainer di dunia. Dengan mengelola 96 pelabuhan, Pelindo merupakan operator terbesar berdasarkan jumlah pelabuhan yang dikelola.

Berbasis Muatan

Berbeda dengan konsep lama yang berbasis wilayah, manajemen Pelindo yang baru ini dikelola berdasarkan jenis kargo (muatan). Pelindo membentuk 4 perusahaan baru sebagai subholding, yang berfungsi mengelola lini bisnis.

Subholding pertama adalah peti kemas, yang throughput gabungannya mencapai 16,7 juta TEUs. Jasa terminal petikemas akan menjadi andalan Pelindo untuk bersaing di tingkat global.

Subholding kedua adalah non-peti kemas. Perusahaan ini akan mengelola pelabuhan-pelabuhan Pelindo yang melayani kargo non peti kemas seperti curah cair, angkutan logistik, dan lainnya.

Yang ketiga adalah subholding logistik, yang fokus pada bidang logistik terkait integrasi jasa kepelabuhan dan jasa multimoda. Dengan terbentuknya subholding ini, diharapkan mampu berkontribusi terhadap turunnya biaya logistik nasional.

Yang terakhir adalah subholding marine equipment and port services. Subholding ini menjadi lini bisnis yang menjalankan pelayanan dan penggunaan jasa kepelabuhanan. Total armada harbour tug gabungan mencapai 280 unit dan menguasai 40 persen pangsa pasar jasa pandu di dalam negeri.

4 Tantangan

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi memberi empat catatan yang menjadi tantangan setelah merger pelabuhan itu.

Pertama, peningkatan dan standardisasi pelayanan di semua pelabuhan Pelindo yang didukung standarisasi proses, kompetensi SDM, dan teknologi (fasilitas) dengan sistem informasi yang terintegrasi, baik antar pelabuhan maupun antara pelabuhan dan pengguna.

Kedua, penataan hub & spoke dengan tantangan utama mengurangi pelabuhan pintu ekspor-impor. Pembatasan menjadi hanya 2-5 international hub port akan meningkatkan volume barang secara signifkan di pelabuhan hub, sehingga berpotensi menarik direct call kapal kontainer raksasa.

Saat ini, jumlah call (kunjungan) kapal kontainer di pelabuhan-pelabuhan Indonesia berkisar 15.019 calls, rata-rata ukuran kapal 15.475 GT, dengan yang terbesar 172.000 GT. (UNCTAD 2020: port calls & performance). Ini mencerminkan ketimpangan antar pelabuhan dan ketiadaan akumulasi cargo.

Menurut Setijadi, penataan hub & spoke menjadi penting untuk meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia secara global, termasuk mengalihkan pengiriman yang selama ini melalui Singapura.

“Penataan jaringan pelabuhan pengumpan (spoke)-nya memang bukan hal yang mudah, namun perlu menjadi prioritas dalam jangka panjang”, kata Setijadi.

Ketiga, pengembangan sistem transportasi multimoda. Pelindo dapat berperan mendorong integrasi pengiriman barang secara end-to-end dengan melibatkan perusahaan pelayaran dan operator transportasi jalan dan rel untuk mengurangi biaya logistik secara keseluruhan.

Merujuk data Pelni dan INSA terhadap komponen biaya logistik, kepelabuhanan berkontribusi sekitar 31 persen, biaya transportasi laut sekitar 19 persen, dan sementara biaya transportasi hinterland mencapai sekitar 50 persen.

Keempat, kontribusi mengurangi kesenjangan perekonomian antar wilayah. Pada tahun 2020, misalnya, distribusi Produk Domestik Bruto masih didominasi wilayah Jawa (58,75 persen) dan Sumatera (21,36 persen).

Sesuai UU No.19/2003 tentang BUMN, selain mengejar keuntungan, salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN lainnya adalah memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya. Sebagai korporasi pelat merah, Pelindo tentu diharapkan mampu berperan melalui pelabuhan-pelabuhannya yang berada di empat wilayah yang kontribusi PDB-nya masih rendah, yaitu Kalimantan (7,94 persen), Sulawesi (6,66 persen), Bali-Nusa Tenggara (2,94 persen), dan Papua (2,35 persen). [AS]

Baca Selengkapnya..

No More Posts Available.

No more pages to load.