Film World War Z, Jadi Keteganggan Temani Weekend 

by -10 views

Jamaninfo, Jakarta: Weekend memang sangat cocok dilakukan untuk kumpul keluarga, apalagi jika dapat menonton sebuah film bersama keluarga. 

World War Z merupakan film horor kiamat tahun 2013 yang disutradarai Marc Forster. Skenario yang ditulis Matthew Michael Carnahan didasarkan pada novel tahun 2006 berjudul sama karya Max Brooks.

Film ini dibintangi Brad Pitt sebagai Gerry Lane, mantan karyawan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang harus keliling dunia untuk mencari cara menghentikan wabah mirip zombi.

Awalnya film ini direncanakan dirilis bulan Desember 2012, namun produksinya mengalami hambatan. Pada Juni 2012, tanggal rilisnya dimundurkan dan kru film kembali ke Budapest untuk syuting selama tujuh minggu, namun pada akhirnya film ini dirilis pada  21 Juni 2013 di Amerika Serikat dalam format 2D dan RealD 3D.

Dikisahkan mantan karyawan Perserikatan Bangsa-Bangsa Gerry Lane dan keluarganya sedang terjebak macet di Philadelphia ketika terdengar laporan dari radio bahwa terjadi wabah rabies di seluruh dunia. Mereka diserang ratusan zombi dan korban tergigit juga berubah menjadi zombi.

Keluarga Lane berhasil kabur dan berlindung di kompleks apartemen sambil menunggu diselamatkan oleh helikopter yang dikirimkan mantan kolega Gerry di PBB, Thierry.

Keluarganya berhasil diangkut ke kapal milik Angkatan Laut Amerika Serikat di lepas pantai New York City. Di sana, tim analis dan personel militer sedang mempelajari penyebaran wabah tersebut di seluruh dunia. 

Seorang ahli virus, Dr. Fassbach, berpendapat bahwa wabah tersebut disebabkan oleh virus yang asal usulnya harus ditemukan agar vaksinnya bisa dikembangkan. Komandan kapal memberitahu Gerry bahwa karena pernah menjadi mantan penyidik di PBB, Gerry ditugaskan menyelidiki virus ini dan membantu Fassback menemukan sumbernya. 

Agar keluarganya bisa tetap tinggal di kapal, ia terpaksa menerimanya dan pergi ke Camp Humphreys, pangkalan militer di Korea Selatan tempat kata “zombi” pertama kali digunakan untuk menyebut wabah ini.

Setibanya di pangkalan, mereka diserang dan Fassbach tidak sengaja menembakkan senjatanya ke dirinya sampai tewas. Di sana Gerry mengetahui dari beberapa korban selamat bahwa zombi tertarik dengan suara.

Komandannya juga memberitahu Gerry tentang seorang warga lokal yang mulutnya berbusa menggigit dokternya. Ia memperlihatkan sebuah ruangan penuh jasad terbakar, tempat mereka pertama melihat wabah tersebut. 

Seorang mantan agen CIA yang dipenjara karena berkhianat menyuruh Gerry pergi ke Yerusalem. Di sana, kepala dinas intelijen Israel Mossad, Jurgen Warmbrunn, telah mendirikan zona aman tepat sebelum wabah diakui secara resmi, artinya Israel sebelumnya sudah tahu tentang peristiwa ini.

Di Yerusalem, Gerry bertemu Warmbrunn. Warmbrunn menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya Mossad menguping pembicaraan seorang jenderal militer India yang menyatakan bahwa tentara India sedang memerangi sosok “tak mati”. 

Dari informasi tersebut, dibantu program yang mencegah Israel kecolongan seperti sebelumnya, zona karantina didirikan di Israel dan mereka mengizinkan warga sipil yang tidak terinfeksi masuk. Akibat keributan di dalam zona tersebut, ribuan korban dan zombi di luar dinding mulai menumpukkan diri dan memanjat. 

Kekacauan terjadi dan tentara pengawal Gerry, Segen, digigit. Gerry langsung mengamputasi tangannya agar ia tidak berubah menjadi zombi. Kemudian mereka kabur dari Yerusalem dengan menumpang pesawat.

Setelah menghubungi Thierry, pesawat mereka dialihkan ke Cardiff, Wales, supaya bisa mengunjungi fasilitas riset WHO untuk membantu penelitian vaksinnya. Di dalam pesawat, seorang zombi yang menumpang menyerang, sehingga Gerry terpaksa melemparkan granat ke belakang pesawat. 

Ledakan tersebut menurunkan tekanan kabin dan semua orang tersedot ke luar. Pesawat jatuh dan Segen dan Gerry selamat. Keduanya tiba di fasilitas tersebut dan Gerry mengungkapkan bahwa korban terinfeksi tidak menggigit orang-orang sakit yang sekarat, mereka dianggap tidak cocok sebagai inang reproduksi virus. 

Ia bersedia menguji patogen fatal namun dapat disembuhkan pada dirinya. Akan tetapi, gedung penyimpanan patogen tersebut dipenuhi zombi setelah salah seorang dokter tak sengaja menginfeksi dirinya sendiri dan teman-temannya. 

Gerry berhasil mencapai ruang penyimpanan patogen dan menyuntikkan salah satunya ke tubuhnya. Ia berhasil kembali ke laboratorium utama setelah patogen tersebut membuat dirinya “tersamarkan” dari penglihatan para zombi. Para dokter bahagia atas penemuan tersebut, lalu menyembuhkan Gerry setelah tiba di gedung utama.

Gerry bertemu kembali dengan keluarganya di zona aman Freeport, Nova Scotia. Sebuah “vaksin” yang diambil dari beberapa patogen mematikan langsung dikembangkan. 

Vaksin tersebut berperan sebagai samaran bagi warga sipil yang mengungsi dan tentara yang memerangi zombi. Rekaman selanjutnya menampilkan perlawanan terhadap zombi di seluruh dunia. Umat manusia memiliki harapan dan Gerry mengatakan bahwa “Ini belum berakhir, mendekati pun tidak.” (MDS)

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…