Haji Sugirah, Petani Pejuang

by -106 views

Jamaninfo.com, Banyuwangi- Gesah (17/9) Tani kali ini sungguh menarik karena narasumber yang tidak asing bagi petani kali ini ikut di kontestasi Pilkada serentak Tahun ini.

Sedikit Biografi Bapak Haji Sugirah adalah Pembina JAMAN DPK Banyuwangi juga tokoh Tani Banyuwangi. Jika pagi hari Anda berkunjung ke kediaman Haji Sugirah di Seneporejo, Kecamatan Siliragung, jangan berharap akan langsung bertemu. Pasti beliau sedang berada di ruang kerjanya. Areal persawahan yang membentang sangat luas.

Di tengah sawah itu, Haji Girah biasa berinteraksi dengan para petani. Sembari merawat sejumlah sawahnya yang ditanami jeruk, buah naga dan tanaman lainnya. “Sawah ini adalah tempat kelahiran saya,” ujar pria kelahiran 1 Februari 1964 itu.

Sejak belia, Haji Girah telah mengenal dunia pertanian. Dunia yang ia geluti sepenuh hati. “Saya meyakini, dengan dunia pertanian ini akan mampu mensejahterakan rakyat,” ujar tokoh holtikultura Banyuwangi itu.

“Namun,” imbuhnya, “jadi petani harus cerdas. Tak boleh pasrah begitu saja dengan hasil yang ala kadarnya. Petani harus melek dengan ilmu pengetahuan dan jangan pernah takut berinovasi.”

Apa yang diungkapkan Haji Girah tersebut, bukan sekadar retorika. Semua orang bisa menguji bagaimana wawasannya dalam dunia pertanian. Berikut dengan sejumlah inovasi dan gagasan pengembangannya.

“Saya punya ambisi, bagaimana bisa menghasilkan panenan di luar musim panen. Selain buah naga, sekarang saya mengembangkan pada jeruk. Alhamdulillah, dengan sejumlah rekayasa pemupukan, jeruk saya bisa berbuah di luar masa panen jeruk,” papar alumnus STKIP Jombang dan Universitas WR. Supratman Surabaya itu.

Ada banyak sederet inovasi dan gagasan beliau untuk mengembangkan dunia pertanian Banyuwangi. Dari hulu hingga hilir. Ia ingin membentuk ekosistem bisnis pertanian mulai dari produksi, pemasaran hingga olahan.

“Saya menyebutnya dengan istilah ‘rumah tangga’ bisnis. Jangan hanya parsial, tapi harus menyeluruh,” tegas anggota DPRD Banyuwangi tiga periode itu.

Pengalaman Haji Girah sebagai petani sukses ini, sepertinya pengalaman yang sangat penting bagi sebagian besar rakyat Banyuwangi. Sebagaimana kita ketahui, menurut data BPS 2018, ada sekitar 288 ribu penduduk Banyuwangi yang berprofesi sebagai petani. Mereka bekerja di atas lahan pertanian yang mencapai 65,4 ribu hektar.

Potensi yang teramat besar ini, memang perlu dipikirkan secara serius oleh pemerintah. Dan, pemerintahan yang memiliki basis pengetahuan dan kultur pertanian yang matang saja yang mampu menerjemahkannya dalam bentuk kebijakan.

Legecy Bupati Abdullah Azwar Anas yang konsen pada pembangunan infrastruktur pertanian, menjadi pijakan yang amat penting bagi Haji Girah untuk melandaskan gagasan dan inovasi pertaniannya. Tinggal bagaimana kesinambungan program tersebut, dijalankan sehingga melahirkan kesejahteraan bagi masyarakat Banyuwangi.

Di sinilah, sepertinya kita perlu berpikir lebih jernih. Sang pemilik pengalaman yang benar-benar dibutuhkan rakyat Banyuwangi itu, adalah pengalaman Haji Girah sebagai petani sukses. Pengalaman yang sebentar lagi bakal diimplementasikan dalam ranah kebijakan sebagai pemimpin di bumi Blambangan.

Pengalaman yang bukan sekadar tagline! Dan akan dibuktikan nanti bila terpilih menjadi Bupati Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *