Indonesia Jajaki Pelayaran Langsung ke Brunei Darussalam

by -53 views

JMOL. Dalam rangka memulihkan konektivitas antara negara ASEAN yang terdampak pandemi Covid-19, Indonesia menjajaki peluang pelayaran langsung ke Brunei Darussalam.

Hari ini Jumat (5/11), Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam Sujatmiko bertemu membahas perkembangan konektivitas transportasi darat, laut, dan udara antara Indonesia dan Brunei Darussalam. Menurut Menhub, saat ini tengah disusun Nota Kesepakatan Bersama/MoU terkait pengiriman dan pelabuhan (shipping and ports), yang akan menjadi dasar terlaksananya pelayaran kedua negara tersebut.

“Saat ini tengah dibahas MoU untuk saling mengakui sertifikasi dan pelatihan pelaut dari kedua negara. Diharapkan MoU ini dapat segera disepakati dan bisa bermanfaat untuk kedua negara,” kata Menhub.

Sebelumnya, konektivitas laut Indonesia dan Brunei telah diakomodasi dalam kerja sama sub regional Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA). Dalam Kerjasama BIMP-EAGA ini, Indonesia membuka beberapa pelabuhan di Indonesia yaitu: Balikpapan, Banjarmasin, Bitung, Jayapura, Makassar, Nunukan, Pantoloan, Parepare, Pontianak, Sorong, Tarakan, dan Ternate.

Sementara untuk angkutan udara (penumpang dan barang), kedua negara telah memiliki kesepakatan dalam kerangka kerja sama ASEAN Open Skies. Brunei membuka Bandara Bandar Sri Begawan dan Indonesia membuka sejumlah bandara di Indonesia yaitu: Jakarta, Medan, Surabaya, Denpasar, dan Makassar, tanpa batasan frekuensi.

Menhub menyebutkan beberapa perusahaan pelayaran nasional memiliki potensi untuk melayani rute Indonesia – Brunei.

“Oleh karena itu, perlu digali lebih dalam potensi pasar dari Brunei Darussalam agar menarik minat perusahaan pelayaran,” tutup Menhub.

Indeks Konektivitas

Berdasarkan liner shipping bilateral connectivity index (LSBCI) yang dicatat UNCTAD setiap tahun, konektivitas Indonesia – Brunei tercatat paling rendah dibanding Indonesia dengan negara-negara ASEAN lainnya (0.177). Malaysia merupakan negara yang paling baik koneksivitasnya dengan Brunei. Itupun score nya hanya 0.230.

Angka LSBCI menggambarkan arus ekspor – impor melalui laut antar dua negara. Makin tinggi score LSBCI, makin kuat konektivitas (melalui laut) kedua negara tersebut.

Dari aspek armada, Indonesia unggul jauh dari Brunei, dari jumlah unit dan kapasitas angkutnya. Data UNCTAD mencatat, pada tahun 2020 Brunei hanya memiliki kurang dari 100 unit kapal dengan total tonase 456 ribu DWT. Sementara di tahun yang sama, jumlah kapal berbendera Indonesia lebih dari 10 ribu unit dengan total tonase 27 juta DWT. [AF]

Baca Selengkapnya..

No More Posts Available.

No more pages to load.