ITS Ajukan 3 Strategi Mencapai “Indonesian SEA”

by -43 views

JMOL. Pandemi Covid-19 telah berdampak pada perekonomian dunia, termasuk pada sektor pelayaran di Indonesia. Tantangan dan permasalahan yang dihadapi saat ini adalah kelangkaan kontainer, yang memicu tingginya biaya pengiriman internasional. Kondisi ini berdampak pada mahalnya biaya ekspor produk-produk Indonesia, terutama yang diekspor menggunakan peti kemas.

Baca: Dampak Krisis Petikemas Global, Biaya Ekspor Indonesia Naik Tajam

Situasi di atas membuat Kementerian Perhubungan cq. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mempersiapkan wacana baru yaitu Indonesian Shipping Enterprise Alliance atau Indonesian SEA. Yang bermaksud untuk mendorong pertumbuhan ekspor produk nasional ke pangsa pasar dunia.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut, Capt. Mugen Sartoto mengatakan pihaknya serius dan berharap dukungan penuh dari seluruh stakeholder untuk merealisasikan gagasan Indonesian SEA ini.

“Indonesian SEA akan mengatasi kendala ekspor produk nasional Indonesia ke pangsa pasar dunia dan menjadikan pelayaran nasional sebagai Pride of the Nation yang pastinya akan memberikan nilai tambah terhadap daya saing Indonesia di dunia internasional,” kata Capt Mugen dalam sebuah acara Podcast beberapa hari yang lalu.

Tim kajian ITS yang ditugaskan membantu memetakan rencana pemerintah itu, mengusulkan tiga strategi pembentukan Indonesian SEA, termasuk mengatasi krisis kontainer saat ini. Usul tersebut disampaikan dalam FGD bertajuk Indonesian SEA yang digelar DITLALA HUBLA Kemenhub, hari ini (27/09).

Mewakili ITS, Dr. Saut Gurning menyebutkan tiga strategi tersebut adalah (1) pengadaan kontainer kosong, (2) penyediaan armada, dan (3) penyediaan platform SEACOM.

Kontrol Kontainer

Pemetaan kontainer kosong harus dilakukan di berbagai depo dan pelabuhan utama internasional di Indonesia. Kontainer kosong adalah kontainer eks impor milik MLO (Main Lane Operator) yang disimpan di depo-depo, yang umumnya terletak di sekitar pelabuhan.

Strategi penyediaan kontainer yang diusulkan adalah melalui pemberlakuan kuota sebesar 10-15 persen dari total kontainer kosong setiap MLO yang ada di depo-depo di Indonesia. Artinya, pemerintah mengontrol trafik keluar masuk kontainer di depo-depo. Reposisi kontainer kosong oleh MLO akan dibatasi. Dan untuk itu, sistem informasi yang ada di setiap depo harus terkoneksi dengan SEACOM.

Kontrol terhadap jumlah kontainer kemudian diikuti konsolidasi kargo ekspor, khususnya bagi industri dan usaha kecil dan menengah. Kuota 10-15 persen di atas dialokasikan kepada eksportir kecil dan menengah, baik LCL dan FCL.

Yang terakhir, mendorong usaha produksi kontainer yang pengelolaannya secara bersama oleh pelayaran, forwarder, konsolidator, operator pelabuhan, depo kontainer, dan pemilik barang. Tujuannya untuk menghindari ketergantungan pada kontainer milik MLO.

Armada Ekspor

Strategi kedua adalah penyediaan armada nasional di luar negeri. Yaitu membentuk Indonesian Shipping Enterprises Alliance (Indonesian SEA) untuk.meningkatkan ketersediaan rute pelayaran internasional yang membawa muatan ekspor nasional.

Saut menyebutkan ada 3 opsi: yaitu mendorong pelayaran swasta nasional untuk ‘naik kelas’ menjadi MLO regional, mendorong penyatuan pelayaran BUMN menjadi MLO regional yang ditugaskan melayani angkutan kontainer, atau ke-3, melibatkan MLO global untuk bergabung membentuk usaha bersama (inkorporasi) dengan BUMS+BUMN pelayaran nasional untuk pengangkutan ekspor.

Catatan redaksi, ada 5 perusahaan pelayaran nasional yang cukup eksis di segmen kontainer. TANTO, MERATUS, SAMUDERA, TEMAS, dan SPIL menguasai 95 persen pasar kontainer domestik, dengan total armada 215 kapal dan kapasitas angkut 160 Ribu TEU. Beberapa membuka rute pelayaran ke luar negeri walau terbatas di kawasan asia.

SEACOMM

Penyediaan media komunikasi digital SEACOMM (Shipping Enterprises Alliance Communication Media) bagi
perusahaan pelayaran (dalam hal ini ship management) dan pemilik barang (eksportir) yang dapat digunakan untuk
bertukar informasi terkait ruang muat kapal, jenis produk ekspor, asal produk ekspor, dan pengusaha ekspor. Sistem
dimaksud akan diintegrasikan di dalam sistem induk (terintegrasi).

“Berbeda dengan inaportnet dan lainnya yang sifatnya ekosistem K/L, SEACOMM adalah platform untuk kapal dan ruang muatnya serta jejaring logistik di hinterland”, kata Saut.

SEACOMM menurut Saut, akan menyediakan informasi ruang muat dan interaksi data antar pelaku usaha pelayaran, pelabuhan, forwarder untuk kepentingan domestik dan luar negeri.

Namun menurut Saut, ketiga strategi besar di atas masih terbuka terhadap masukan dan pendapat dari seluruh stakeholder kemaritiman, sehingga dapat diimplementasikan secara tepat di lapangan. [AS]

Baca Selengkapnya..

No More Posts Available.

No more pages to load.