Kasus DBD Dompu, Tertinggi di NTB

by -13 views

Jamaninfo, Dompu : Selama Januari hingga Maret 2021, Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mencapai 243 kasus. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu mencacat, untuk Januari mencapai 120 kasus, Februari mencapai 78 kasus dan Maret mencapai 45 kasus.

Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Maman menyebut, dari jumlah kasus itu, 4 diantaranya meninggal dunia. Kasus DBD di Kabupaten Dompu, merupakan yang tertinggi di Provisni Nusa Tenggara Barat. Meski tertinggi baik secara kasus serangan maupun kasus meninggal dunia, Pemkab Dompu tidak menetapkan Dompu dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.

“Harusnya, satu yang meninggal dunia akibat serangan DBD, sudah memenuhi syarat untuk ditetapkan KLB,” katanya, Rabu (7/4/2021).

Kebijakan untuk menetapkan KLB ini, menjadi tanggung jawab Bupati atas usulan Dinas Kesehatan. Namun kebijakan itu tidak diambil dengan bebagai pertimbangan. Maman mengaku sudah memberikan tela’ah kepada Bupati Dompu, namun Maman mengaku tidak mengerti apa yang menjadi dasar Bupati tidak menetapkan kasus DBD menjadi KLB.

Tingginya kasus hingga menyebakan 4 orang meninggal dunia ini, diduga warga enggan mendatangi layanan kesehatan untuk memeriksakan diri. Sebab, dengan tanda-tanda deman tinggi, warga kawatir akan dimenjalani tes antigen.

“Dugaan saya, warga takut terkena Covid, sebab setiap warga yang mendatangi layanan kesehatan dengan demam tinggi, pasti menjalani tes antigen,” jelasnya.

Maman menjelaskan, meski memiliki tanda-tanda sama yakni demam tinggi, namun antara DBD dan Covid, merupakan peyakit yang berbeda. Namun demikian, seharusnya masyarakat tidak perlu resah. Sebab, sedini mungkin diketahui seseorang terserang DBD maupun Covid, maka penangannya akan lebih optimal. Sebab, pengobatan dini dua penyakit ini, akan membantu pasien tidak terlau parah dan bisa secepatnya diobati.

Selain ketakutan akan di Covidkan, tingginya kasus ini sebab sejak Januari 2021, bencana banjir bandang di kabupaten Dompu menerjang. Sanitasi yang buruk akibat terjangan banjir bandang, menyebabkan genangan air dimana-mana. Foging Fokus, lanjut Maman meski meminimalisir serangan, namun tidak sepenuhnya membantu. Sebab, yang mati akibat foging fokus itu, hanya nyamuk dewasa yang usia hidupnya hanya sekitar 14 hari.

“Hujan kan masih sering terjadi ini. BMKG memperkirakan hingga akhir April. Butuh kesadaran masyarakat untuk menerapkan PHBS dengan menerapkan 3 M plus,” tambahnya.

Sebab dengan 3 M Plus ini, dirasa mampu membunuh jentik-jentik nyamuk yang nantinya akan menjadi nyamuk dewasa. Seluruh Puskesmas, sudah diperintahkan untuk menyebar Abate ke masyarakat untuk membantu membunuh jentik-jentik nyamuk itu agar tidak berkembang. (imr)

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…