Kejagung Ungkap Peran Dua Tersangka LPEI

by -15 views

Jamaninfo, Jakarta: Kejaksaan Agung mengungkap peran dari dua tersangka dalam kasus dugaan tindak korupsi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Setelah menjalani pemeriksaan, keduanya kemudian ditetapkan sebagai tersangka hari ini, Kamis (13/1/2022). 

Tersangka pertama ialah Purnomo Sidhi Noor Mohammad selaku mantan Relationship Manager LPEI periode 2010-2014 sekaligus mantan Kepala Departemen Pembiayaan UKM LPEI periode 2014-2018. Kemudian, tersangka kedua adalah Djoko Slamet Djamhoer selaku mantan Kepala Divisi Analisa Risiko Bisnis II LPEI periode April 2015-Januari 2019.

“Yang mengusulkan pengajuan kredit Grup Walet dan Johan Darsono,” ucap Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak di Gedung Bundar Jampidsus, Kamis (13/1/2022).

Lima tersangka yang sebelumnya, ialah Josef Agus Susanta sebagai Kepala Kantor Wilayah Kakanwil Surakarta 2016,  Suyono sebagai Direktur PT Jasa Mulia Indonesia dan PT Mulia Wallet Indonesia dan PT Borneo Wallet Indonesia. Kemudian Kepala Divisi Pembiayaan UKM 2015-2018, Ferry Sjaifullah, lalu Direktur PT Mount Dreams Indonesia, Johan Darsono. 

Serta yang terakhir Arif Setiawan, yang merupakan Direktur Pelaksana IV atau Komite Pembiayaan. Bahkan juga berperan sebagai pemutus awal sampai dengan akhir grup wallet dan direktur pelaksana III LPEI periode 2016 dan selaku komite pembiayaan atau pemutus grup Johan Darsono.

“Bahwa terhadap kelima tersangka dilakukan penahanan, tiga di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung, dan dua orang di Rutan Salemba Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, dalam konpers, Kamis (6/1/2022).

Dua orang yang ditahan di Rutan Salemba Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, sementara Arif Setiawan, Ferry Sjaifullah, dan Johan Darsono menjalani penahanan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung. Kelimanya menjalani penahanan selama 20 hari ke depan.

“Perhitungan kerugian negara sementara, 2 triliun 600 miliar rupiah, dan saat ini masih dilakukan penghitungan kerugian negara oleh BPK RI,” tutur Leonard.

Penyidikan dugaan tindak pidana korupsi LPEI dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Print-13/F.2/Fd.2/06/2021 tanggal 24 Juni 2021.

LPEI diduga memberikan fasilitas pembiayaan kepada Group Walet, Group Johan Darsono, Duniatex Group, Group Bara Jaya Utama, Group Arkha, PT Cipta Srigati Lestari, PT Lautan Harmoni Sejahtera, PT Kemilau Harapan Prima, dan PT Kemilau Kemas Timur. Pembiayaan kepada para debitur tersebut sesuai laporan sistem informasi manajemen resiko dalam posisi colektibility 5 (macet) per tanggal 31 Desember 2019.

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…

No More Posts Available.

No more pages to load.