Kelelahan Beraktifitas Picu Hasil Reaktif Rapid Test

by -13 views
Berita Terkini

, Aceh Utara: Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Aceh Utara, dr Harry Laksmana mengatakan, kondisi tubuh yang kurang fit atau istirahat yang tidak cukup hingga kurang tidur dan influenza serta demam biasa dimungkinkan dapat memicu hasil reaktif pada uji Rapid Test Anti Bodi (sampel darah).

Hal itu dikatakan dr Hari Laksamana yang juga tim penanganan Covid-19 RSU Cut Meutia Kabupaten Aceh Utara, menjawab RRI, Kamis (03/11/2020) tentang pengaruh hasil rapid test jadi reaktif jika kondisi tubuh seseorang tidak fit atau kelelahan beraktivitas.

Ia menjelaskan, tingkat keakuratan Rapid Test Anti Body dalam mendeteksi dini Virus SARS COV-2 atau Covid-19, hanya 18 persen atau lebih rendah dari Rapid Antigen yang mencapai 30 persen tingkat keakuratannya.

“Pihak WHO saat ini sudah tidak merekomendasikan penggunaan rapid test antibodi. Namun begitu tidak juga melarangnya”, tambahnya.

Rapid Test Antibody saat ini masih dipakai untuk kepentingan bepergian menggunakan maskapai penerbangan, juga digunakan oleh perkantoran.

“Hasil reaktif bukan berarti seseorang dapat dikatakan terpapar corona. Sebaliknya hasil Non reaktif bukan berarti tidak terpapar tergantung sifat virus didalamnya. Jika banyak dan aktif maka bisa saja reaktif, tetapi jika sedikit dan tidak aktif maka non reaktif. Hanya Swab Test sejauh ini yang dikategorikan sebagai Golden Diagnosis SARS COV-2”, tutup Ketua Komite Koordinasi Pendidikan (Komkordik) Mahasiswa dan Siswa Sekolah Kesehatan ini. 

Sementara itu, salah seorang dokter spesialis paru-paru RSU Cut Meutia Aceh Utara, dr Indra Buana, Sp.P yang ditanya RRI juga membenarkan jika keakuratan hasil rapid test masih meragukan.

“Rapid tidak dianjurkan, tapi harus Polymerase Chain Realtime (PCR) atau uji Swab,” tegas dr Indra melalui pesan tertulisnya.

Selengkapnya…