Konsorsium AGIT Bangun dan Kelola Pelabuhan Anggrek Gorontalo Selama 30 Tahun

by -93 views

JMOL. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyaksikan penandatanganan kerja sama antara Dirjen Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Agus H. Purnomo dengan Direktur Utama PT Anggrek Gorontalo International Terminal(AGIT), Hiramsyah S. Thaib di kantor Kemenhub, Jakarta, 30 Juli 2021.

Penandatangan perjanjian Kerjasama di atas merupakan tindak lanjut dari penetapan konsorsium tersebut sebagai pemenang lelang proyek pembangunan Pelabuhan Anggrek pada 18 juni 2021 lalu. Pembangunan Pelabuhan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), dimana Dirjen Hubla bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK). Adapun Konsorsium AGIT terdiri dari PT Gotrans Logistics International, PT Anugerah Jelajah Indonesia Logistic, PT Titian Labuan Anugrah, dan PT Hutama Karya (Persero).

Anggrek adalah pelabuhan pengumpul yang berada di Provinsi Gorontalo. Selama ini pelabuhan ini dikelola Kantor Unit Penyelenggara Kelas II Anggrek-Kemenhub dan melayani kegiatan bongkar muat multipurpose. Pelabuhan ini perlu dikembangkan karena kapasitas operasional dermaga sudah melampaui standar kinerja pelabuhan, dimana ukuran kapal yang bersandar (peti kemas dan kargo) lebih besar dari kapasitas dermaga eksisting.

“Pelabuhan Anggrek memiliki potensi hinterland (pengembangan Kawasan sekitar) yang mendukung, diantaranya berada di area perkembangan komoditi pertanian dan berada Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Gorontalo-Paguyaman-Anggrek-Kwandang (Gopandang),” kata Dirjen Hubla.

Ruang lingkup pengembangan Anggrek meliputi: penyediaan dermaga untuk peti kemas yang dapat mengakomodir kapal bertambat sebesar 30.000 DWT dan general cargo untuk dapat mengakomodir kapal sebesar 10.000 DWT, kegiatan bongkar muat barang, peti kemas, curah, dan Penyediaan dan pelayanan jasa terkait kepelabuhanan lainnya.

Adapun nilai investasi pengembangan Anggrek sebesar Rp 1,4 Trilyun dan biaya operasional sebesar Rp 5,2 Trilyun selama 30 tahun masa konsesinya. Setiap tahunnya, Negara melalui Kemenhub, akan memperoleh fee konsesi sebesar 2,5% dari Pendapatan Kotor Pelabuhan. Kerjasama ini juga memuat opsi kenaikan besaran fee konsesi, serta pembagian kelebihan keuntungan (clawback) sebesar 50% yang disetorkan dalam bentuk penyediaan infrastruktur.

Pelabuhan yang memiliki konektivitas dengan negara timur jauh seperti Jepang, Korea, China, dan Hongkong ini diharapkan dapat mendukung Kawasan Gopandang di Gorontalo, dengan fungsi sebagai penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan serta simpul distribusi, produksi, dan konsolidasi. Selain mendorong produktivitas dan menambah lapangan pekerjaan di Kabupaten Gorontalo Utara dan sekitarnya. [AS]

Baca Selengkapnya..

No More Posts Available.

No more pages to load.