Menjelajah Peradaban Kuno di Ephesus dan Hierapolis

by -16 views

Jamaninfo, Jakarta: Meski yang tersisa tinggal reruntuhannya saja, gambaran kota yang megah dan tertata rapi masih terasa. Terlihat dari sisa struktur bangunan, kelengkapan kota, dan bahan bangunan yang digunakan berupa marmer putih yang padat. Begitulah kesan yang terasa saat menjejakkan kaki di kompleks kota kuno Ephesus dan Hierapolis di Turki. Kota peninggalan jaman Yunani dan Romawi kuno ini merupakan peninggalan bersejarah yang dilindungi dan diakui badan dunia PBB. Saat bertandang ke dua kota itu, di beberapa titik masih dilakukan renovasi dan penataan.

Jejak Peradaban di Ephesus

Kota kuno pertama yang dikunjungi adalah Ephesus atau Efes dalam bahasa Turki, adalah  kota kuno berusia ribuan tahun yang dibangun penguasa Yunani dan Romawi pada abad ke-10 sebelum Masehi. Lokasinya berada di wilayah Kusadasi provinsi Izmir.

Dalam perjalanan sejarahnya Ephesus mengalami masa suram dan gemilang, sebagai kota besar di dunia pada masanya, dan akhirnya kota ini hancur dihantam gempa bumi, terkubur dalam tanah. Hingga ditemukan kembali, melalui ekskavasi yang dilakukan arsitek asal Inggris John Turtle Wood pada 1869.

Saat penguasa Romawi Kuno berkuasa, Ephesus mencapai puncak kejayaannya dan menjadi kota terbesar kedua setelah Roma.  Pada masa ini pula, dibangun Kuil Artemis-kuil pemujaan Dewi Artemis-yang menjadi ikon kota Ephesus. Namun sisa bangunan kuil itu nyaris tidak ada, hanya beberapa pilar bangunan yang menjadi tanda perkiraan letak kuil tersebut.  Bangunan yang terlihat masih agak utuh, adalah  perpustakaan Celsus dan teater terbuka berbentuk setengah lingkaran. Dari Ephesus terlihat sebuah tata kota yang rapi dan teratur, bahkan dilengkapi jalan setapak terbuat dari marmer putih. Dimana letak teater, kompleks tempat tinggal, pintu gerbang, pasar dan perpustakaan, sudah tertata sedemikian rupa. Bahkankamar mandi umum lengkap dengan jambannya juga ada, karena saat itu, konon siapapun yang akan masuk kawasan kuil melewati gerbang Hercules wajib mandi dulu.

Sejarah panjang Ephesus menyisakan berbagai mitos akan kota ini. Bagi umat Kristiani, Ephesus menjadi bagian sejarah yang penting karena kota ini disebut-sebut sebagai salah satu  dari lokasi tujuh gereja penting di Asia Kecil. Di Ephesus pula konon tempat kejadian kisah tujuh pemuda yang tertidur selama ratusan tahun dalam gua (Seven Sleepers dalam Kristen, Ashabul Kahfi dalam Islam).

Meski yang tersisa cuma reruntuhan, rasanya tak cukup waktu sehari untuk menyusuri semua sudut kota dengan kisahnya masing-masing.

Kota Kuno Hierapolis di Pamukkale

Reruntuhan kota kuno lainnya yang menjadi ikon Turki adalah Hierapolis yang berlokasi di wilayah Denizli, Pamukkale dengan jarak tempuh kurang lebih dua jam dari Kusadasi.  Dalam bahasa Turki, Pamukkale artinya istana kapas (cotton castle). Tapi sebenarnya itu hanya sebutan untuk sebuah tempat sumber air panas, dimana di tempat tersebut terjadi endapan batuan alami yang mengandung kalsium karbonat dan membentuk kolam bertingkat-tingkat (travetines) yang unik. Endapan dengan area yang luas ini berwarna serba putih seperti kapas, sehingga tempat ini pun disebut Istana Kapas.

Situs kota kuno  Hierapolis berada dalam satu kawasan sumber air panas Cotton Castle ini.  Sama seperti Ephesus, kota ini juga memiliki sejarah panjang, hingga penguasa terakhir dari Dinasti Seljuk.  Banyak sebutan untuk Hierapolis, selain sebutan Kota Suci karena dari ceritanya, kota ini tempat bermukimnya penganut berbagai agama Yahudi dan Kristiani. juga disebut kota Spa karena ada sumber air panas yang airnya konon dapat menyembuhkan penyakit. Di kawasan pula, juga ada kolam air hangat yang konon dulunya tempat mandi Cleopatra, yang sekarang dinamakan Antique Pool.Kota Hierapolis berkali-kali hancur akibat gempa, lalu dibangun kembali. Tapi  saat gempa terakhir yang terjadi di awal abad ke-16, kota ini benar-benar ditinggalkan penghuninya dan tidak pernah terjamah lagi.  Penggalian kembali Hierapolis, baru dilakukan pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20,  oleh arkeolog Jerman bernama Carl Humann.

Berbeda dengan Ephesus, tempat-tempat yang menjadi kelengkapan kota di Hierapolis seperti colosseum, pasar, pemukiman, tempat pemandian umum, pemakaman dan kuil-kuil jaraknya agak berjauhan,  banyak diantaranya hanya berupa reruntuhan batuan yang sudah tidak jelas bentuk bangunannya. Satu-satunya sisa bangunan yang masih berdiri dengan megah adalah amphiteater    yang ukurannya lebih luas dibandingkan amphiteater di Ephesus. Amphiteater di Hierapolis mampu menampung 15.000 orang. Letaknya sangat strategis di atas perbukitan. Sehingga dari amphiteater ini kita bisa melihat ke penjuru sisa reruntuhan kota kuno ini.

Tata kota, bisa menunjukkan peradaban manusia yang tinggal di kota itu.  Dan menjelajahi dua kota kuno di Turki ini, bisa dipastikan sudah adanya peradaban manusia yang luhur sejak ribuan tahun silam. Namun peradaban itu tak kuasa menghadapi kekuatan alam, hingga sempat terkubur, hingga ditemukan kembali oleh manusia dari peradaban selanjutnya, dan menguak berbagai misteri kehidupan di masa lampau. 

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…