Menkes: Data Ribuan Klaster Covid-19 Sekolah Hoaks

by -13 views

Jamaninfo, Jakarta: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membantah adanya kabar ribuan sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas menjadi klaster Covid-19. 

Menurut Budi, data yang diperolehnya menunjukkan kasus Covid-19 di sekolah lebih sedikit. 

“Jadi kalau banyak yang kemarin diskusi atau beredar hoaks bahwa klaster (Covid-19) yang demikian banyak, sebenarnya enggak demikian,” kata Budi dalam keterangan pers secara virtual seperti dikutip Youtube Sekretariat Presiden, Senin (27/9/2021).

Budi mengungkapkan, pihaknya juga telah melakukan beberapa surveilans Covid-19 di beberapa sekolah di Jakarta dan Semarang. 

Ia menjelaskan, dari satu sekolah, 80-90 subyek dites Covid-19 menunjukan hasil yang beragam, ada yang positif dan negatif. 

“Contoh kalau SDN Rawasari itu 30 orang di-swab, positif Covid-19 cuma satu orang, itu pasti itu bukan klaster, misalnya di bawah itu di Duren Sawit SMP PGRI dari 266 orang dites, 21 positif itu kemungkinan besar kalster,” ungkap Menkes. 

Menkes Budi pun menekankan, pandemi Covid-19 tak boleh membuat PTM terbatas di sekolah selamanya ditunda, pasalnya akan menimbulkan kerugian jangka panjang. Untuk itulah, Kemenkes akan melakukan advance surveilans untuk aktivitas tatap muka di sekolah. 

“Kita harus belajar hidup dengan ini, saya bicara dengan pak Nadiem (Mendikbudristek) ya ini normal kita harus belajar hidup dan kita tangani, jadi risk management-nya masih bagus, bukan kemudian kita takut menghindari karena kita pasti harus tetap belajar mengajar,” ujar Menkes.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menegaskan isu 2,8 persen sekolah menjadi klaster Covid-19 selama melakukan pembelajaran tatap muka (PTM) merupakan angka kumulatif selama masa pandemi Covid-19. 

“Angka 2,8 persen satuan pendidikan walaupun itu sudah kecil tetapi itu pun data kumulatif bukan data per 1 bulan, jadi itu semua dari seluruh masa Covid ini bukan dari bulan terakhir di mana PTM terjadi,” kata Nadiem.

Tak hanya itu, menurut Nadiem, angka 2,8 persen yang diperoleh dari laporan sekolah, belum tentu hanya berasal dari sekolah yang sudah menggelar PTM terbatas saja. 

Selain itu, Nadiem mengklarifikasi data riset Kemendikbud Ristek yang menyebut belasan ribu siswa dan ribuan guru positif Covid-19. Mantan CEO Go-Jek ini menyebut, angka tersebut masih berupa data kasar serta memiliki banyak eror atau kesalahan. 

“Contohnya banyak sekali yang melaporkan jumlah positif covid itu melampaui daripada jumlah murid-murid di sekolahnya,” ujar Nadiem.

Nadiem menyebut terdapat dua kolaborasi pihaknya dengan Kementerian Kesehatan. Pertama adalah sekolah mendukung random testing sampling.

Nadiem menyebut akan menutup sekolah apabila positivity ratenya mencapai lebih dari 5%. Dengan begitu akan lebih valid dan tidak merugikan.

“Integrasi Peduli Lindungi dan mengimplementasi program di sekolah,” ungkapnya.

Berdasarkan data hasil survei Kemendikbud Ristek per 20 September 2021, tercatat ada 2,8 persen atau 1.296 dari 46.580 responden sekolah menjadi klaster Covid-19. Data yang sama juga memperlihatkan, 7.307 tenaga pendidik dan 15.429 siswa positif Covid-19.

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…

No More Posts Available.

No more pages to load.