Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Ini Alasannya

by -16 views

Jamaninfo, Jakarta: Pemerintah mengajak para perempuan Indonesia untuk bersama-sama mewaspadai dan mencegah semaksimal mungkin keterlibatan perempuan dalam pusaran terorisme. 

Hal itu diutarakan dalam forum media ‘Perlindungan Perempuan dari Paham Terorisme dan Ekstremisme’ yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) secara virtual, pada Rabu (7/4/2021). 

Asisten Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Dalam Rumah Tangga dan Rentan Kemen PPPA, Valentina Gintings mengatakan, isu perempuan masuk ke dalam terorisme dan ekstremisme bukanlah hal baru. 

Apalagi, pasca adanya dua aksi terorisme di Makassar dan Mabes Polri, yang melibatkan perempuan belum lama ini.

“Ada titik-titik lemah (perempuan) yang mereka (teroris) itu sudah paham, cara mempengaruhinya. Artinya kita harus pastikan betul diproses pencegahan dan penanggulangannya,” ujar Valentina. 

Valentina mengatakan, ada beberapa faktor penyebab perempuan rentan dilibatkan dalam aksi terorisme, yaitu karena faktor budaya patriarki, ekonomi, dan akses informasi.

“Budaya patriarki membuat perempuan harus nurut pada suami dan ikut apa yang dikatakan suami. Kemudian, ketergantungan perempuan kepada suami dari sisi ekonomi, karena tidak punya pegangan dari segi ekonomi jadi apa pun yang dikatakan suami ya mereka (terpaksa) ikut saja. Perempuan yang berada dalam ruang lingkup yang kecil juga terkadang tidak mendapat informasi yang luas terkait radikalisme sehingga mereka gampang dipengaruhi. Ini hanya sebagian faktor-faktornya,” papar Valentina.

Ia juga menambahkan, perempuan dan anak berada dalam 3 posisi pusaran terorisme. Pertama sebagai kelompok rentan terpapar, kedua sebagai korban, dan ketiga sebagai pelaku. 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan Terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Birgjen. Pol. Akhmad Nurwakhid membenarkan kecenderungan perempuan rentan terpapar ideologi radikalisme.

“Seseorang dapat terpapar radikalisme secara cepat itu relatif, tapi perempuan lebih cepat dan kecenderungannya lebih sulit untuk di deradikalisasi,” ujar Akhmad. 

Di samping itu, faktor sosial, perbedaan pola pikir, dan adanya doktrin, serta karakteristik perempuan yang memiliki perasaan lebih sensitif dan tingkat emosional yang labil juga disebut Valentina sebagai faktor penyebab lainnya.

“Kemen PPPA dalam hal ini akan fokus pada upaya pencegahan, agar perempuan tidak mudah terpapar radikalisme dan kekerasan ekstremisme yang mengarah pada terorisme,” ungkap Valentina.

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…