Sistem “Floating Booking Space” akan Bikin Tarif Kontainer Domestik Meroket

by -120 views

JMOL. Beberapa perusahaan pelayaran domestik dikabarkan akan menerapkan sistem floating booking space untuk pengiriman kontainer antar pulau (domestik) mulai awal Januari 2022.

Demikian menurut Sugi Purnoto, Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI). Sistem tersebut diberlakukan terhadap para penggunanya, baik yang melakukan booking langsung ke pelayaran maupun yang melalui jasa forwarder.

Sugi mengatakan sistem “floating Booking” ini akan menyulitkan para pelaku logistik terutama karena tidak ada jaminan ruang (space) dan rencana booking untuk pengiriman kontainer antar pulau.

“Sebelumnya, pengirim barang bisa memperoleh kepastian space dan tarif selama satu hingga tiga tahun ke depan. Dengan sistem floating, space dan tarif hanya bisa dikunci maksimal sekitar satu bulan”, jelas Sugi saat dihubungi redaksi melalui telepon.

Sistem floating booking berpotensi menghadirkan praktek lelang space yang membuat kenaikan freight menjadi semakin sulit diprediksi. Padahal, sejak awal hingga akhir 2021, menurut Sugi, terjadi kenaikan tarif kontainer yang cukup tinggi dibanding tahun 2020. Rata-rata kenaikan berkisar 40-45 persen untuk ukuran 20 feet dan 60-65 persen untuk ukuran 40 feet HC (High Cube). Lihat grafis.

Rata-rata kenaikan terbesar yang terjadi pada kontainer 40 feet HC, menunjukkan adanya kelangkaan karena ukuran ini banyak digunakan untuk pengiriman ekspor. Namun kenaikan juga terjadi pada kontainer 20 feet domestik.

Pada rute-rute gemuk, freight Jakarta – Medan naik 46 persen untuk kontainer 20 feet, dan 56 persen untuk 40 feet HC. Jakarta – Makassar, 54 persen (20 feet), 69 persen (40 Feet HC).

Rute Surabaya – Makassar, meningkat 46 persen (20 feet) dan 45 persen (40 feet HC). Surabaya – Manado, naik 48 persen dan 58 persen untuk 20 feet dan 40 feet HC.

Konfirmasi Liner

Isu floating Booking tidak dibantah oleh Capt. Japie E Tasijam, Direktur Operasi PT Temas Line Tbk. Kepada logistiknews.id, Capt Japie mengakui walau saat ini jumlah kontainer domestik masih mencukupi, namun jumlah kapal berkurang karena beberapa dioperasikan di rute internasional.

Ia mengusulkan dua opsi jika memang terjadi kekurangan kapal, yang pertama adalah mempercepat waktu transit. Terutama waktu di pelabuhan (port time).

“Shipping Line tidak bisa sendiri mengatasinya, harus ada keterlibatan pihak terkait seperti Pelindo dan Otoritas Pelabuhan. Misalnya, kapal harus bisa langsung sandar dan adanya peningkatan kecepatan bongkar/muat di pelabuhan tujuan sehingga kapal cepat kembali untuk loading kembali,” katanya.

Solusi kedua adalah barang (non kontainer) diangkut menggunakan kapal cargo atau tetap dalam kontainer namun menggunakan kapal cargo. Walau diakuinya bahwa solusi yang pertama lebih realistis untuk diterapkan.

Berbeda dengan Capt Japie, Corporate Communication Strategist Meratus Line, Purnama Aditya enggan menanggapi kabar floating booking space tersebut.

“Untuk isunya (floating booking) kami belum mendapat info sama sekali dari tim komersial”, jawab Aditya kepada Redaksi melalui pesan singkat.

Temas dan Meratus adalah liner (sebutan bagi perusahaan pelayaran kontainer) berbadan hukum Indonesia. Keduanya bersama Tanto, SPIL dan Samudera mendominasi angkutan kontainer domestik. Berdasarkan data Alphaliner, total armada kelima liner di atas sebanyak 211 kapal dengan total kapasitas angkut mencapai hampir 150 ribu TEU.

Bersifat Musiman

Menurut Saut Gurning, pakar transportasi laut dari ITS, model floating booking space umumnya diterapkan untuk pelayaran luar negeri. Imbas krisis kontainer dunia sejak Juni 2020, dimana sejak itu eksportir Indonesia kesulitan memperoleh kontainer.

Baca: Dampak Krisis Peti Kemas Global, Freight Ekspor Indonesia Naik Tajam

Kemungkinan lainnya, terkait pelayaran lanjutan atau satu proses dengan angkutan ekspor atau impor barang dari dan ke Indonesia yang masih dikendalikan MLO (Main Line Operator).

“Untuk pelayaran antar pulau di dalam negeri, di tengah lemahnya permintaan, saya kira pola tersebut (floating booking) tidak diterapkan secara dominan”, kata Saut dalam percakapan melalui telepon.

Kepada Redaksi, pengajar di FTK ITS tersebut mengirimkan sejumlah data terkait PPKN (Persetujuan Pengopersian Kapal Nasional), dan jumlah kapal (Call) yang deviasi ke berbagai negara di luar negeri. Data yang bersumber dari SIMLALA milik Ditjen Hubla Kemenhub RI tersebut berguna untuk melihat ketersediaan kapal di dalam negeri.

“Jika melihat data oktober 2021, maksimal 30 persen yang sering melakukan migrasi (deviasi), untuk kontainer diperkirakan sekitar 10-12 persen”, jelas Saut.

Hal ini diperkuat adanya kenaikan harga sewa kapal di pasar luar negeri. Namun, deviasi tersebut lebih didominasi oleh kapal jenis cargo, khususnya curah kering. Deviasi kapal kontainer relatif kecil.

“Dari sisi supply (ruang muat kapal kontainer) tidak signifikan. Sehingga pengaruhnya relatif kecil terhadap kenaikan freight”, jelasnya.

Namun Saut mengakui adanya fenomena kenaikan freight di akhir dan awal tahun yang sifatnya seasonal. Arus barang (demand) di akhir tahun cenderung meningkat karena trader meningkatkan stok guna mengantisipasi disrupsi akibat varian baru C19-Omicron, Nataru, dan bulan Ramadhan.

Kemungkinan lainnya, lanjut Saut, “floating book” tersebut terkait pelayaran lanjutan atau satu proses dengan angkutan ekspor atau impor barang dari dan ke Indonesia yang masih dikendalikan MLO (Main Line Operator).

Pengawasan KPPU?

Pengamat Maritim dari NAMARIN memiliki analisis berbeda. Menurut Siswanto Rusdi, liner domestik ingin mengikuti jejak MLO (sebutan untuk liner yang melayari rute-rute utama dunia) yang sepanjang 2020 dan 2021 meraup keuntungan berlipat-lipat di tengah krisis kontainer.

“Awal tahun saya pernah ungkapkan bahwa kontainer 20 feet domestik terbilang aman. 40 ft HC memang banyak dipakai untuk pengiriman ekspor, sehingga langka”, kata Siswanto.

Terlepas apakah liner mengaku atau tidak, Namarin mengingatkan akan ada pengawasan dari KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), karena floating book seperti itu dapat dipandang sebagai praktek kartel.

Baca: Kompak Naikkan Tarif, KPPU Periksa Empat Liner

Selama ini para liner di atas sudah beroperasi sebagai feeder bagi MLO dengan Hub port di Singapura dan Tanjung Pelepas, Malaysia. Mudah bagi mereka menggeser armadanya dari atau ke rute feeder tersebut.

“Jadi jika terjadi shortage pada sisi supply, kemungkinan karena pergeseran armada kontainer”, tutup Siswanto. [AS]

Baca Selengkapnya..

No More Posts Available.

No more pages to load.