Teladan Ramadhan: Kisah Sang Penjaga Makam

by -12 views

Jamaninfo, Merauke: Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIT. Ssaat kami masih tertidur lelap, tiba-tiba telepon genggam kami berdering, ternyata yang menelepon adalah Maxi Nakai (42).

“Pak hari ini ada pemakaman, jam 10 pagi, sekarang saya lagi gali kubur,” Ujarnya.

Bergegas kami pun bersiap dan langsung menaiki kendaraan bermotor menuju TPU Tanah Miring, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Selasa (04/05/2021).

Setelah menginjakkan kaki di areal pemakaman, nampak terlihat seorang pria mengenakan baju berwarna biru berada di sebuah liang, ia sedang menggali kubur.

“Selamat pagi pak, ini ada gali kubur, ada yang mau di makamkan sebentar,” Imbuhnya saat membalas sapaan kami.

Baca juga : Kisah Muslim Papua di Tapal Batas

Sambil mengayunkan cangkul, pria ini sesekali menyeka keringat yang nampak menetes di keningnya, maklum hari itu cuaca di Merauke berkisar 30 derajat celcius.

Nampak terlihat lelah, pria ini pun beristirahat sejenak dan terduduk di bongkahan tanah galian, lalu ia menengguk sebotol air mineral kemudian mulai mengisap sebatang rokok lentingan.

Kamipun mengajaknya bercerita tentang suka duka selama menjalankan pekerjaan sebagai penjaga makam dan penggali kubur di TPU ini.

Pria kelahiran Kabupaten Mappi ini mengungkapkan ia telah bekerja sebagai penjaga makam sejak tahun 2005 lalu, menggantikan ayahnya yang juga menjalani pekerjaan yang sama.

“Sudah 16 tahun, saya jadi penjaga makam disini, saya ganti bapak, dulu kerja ini juga,” Tuturnya.

Maxi Nakai menuturkan selama menjadi penjaga makam, ia tidak pernah mendapatkan upah dari Pemerintah, sehingga ia hanya berharap imbalan dari warga sekedar ucapan terima kasih.

“Biasa kalau ada yang ziarah, mereka kasih saya 10 ribu kadang 20 ribu,” Imbuhnya.

Selain menjaga makam, Maxi Nakai terkadang membantu menggali kubur, jika ada warga yang akan di makamkan di TPU ini, dengan imbalan sukarela dari pihak keluarga.

“Biasa saya juga bantu gali kubur, biar bisa dapat uang untuk beli beras, Ujarnya.

Ayah empat orang anak ini menuturkan selama masa pandemi jumlah peziarah yang datang cukup sepi sehingga mengakibatkan pendapatannya mengalami penurunan drastis.

“Sekarang susah, karena Corona ini sepi sekali, jadi agak susah mau dapat uang,” Ungkapnya dengan nada sedih.

Tanpa terasa sebotol air mineral dan tiga lenting rokokpun  telah habis mengiringi perbincangan kami, Maxi Nakai lalu kembali masuk kedalam liang, untuk melanjutkan pekerjaannya.

Dengan tubuh yang terlihat lincah dan kekar, liang lahat itu pun tuntas di kerjakan dalam waktu singkat, dan akhirnya kami bersama Maxi Nakai melangkah kerumahnya yang berada tepat di depan areal TPU.

Istri Membantu Mencari Nafkah

Sambil melangkahkan kaki keluar dari areal pekuburan, nampak terlihat empat lapak jualan bunga terletak di pinggir jalan, ternyata salah satu pemiliknya adalah istri Maxi Nakai bernama Yohana (39).

Wanita ini turut berjualan bunga di dalam kresek dan air putih di dalam botol kemasan untuk di jual kepada para peziarah yang akan mengunjungi makam di TPU ini.

“Saya istrinya pak Maxi, saya bantu jualan bunga, biar bisa tambah tambah untuk hidup,” Ujar Yohana.

Baca juga : Kisah Muslim Papua di Tapal Batas

Sambil membersihkan lapak jualannya, Yohana menuturkan pada awal bulan suci Ramadhan, dagangannya cukup banyak terjual, namun pada pertengahan Ramadhan kembali sepi karena minimnya pengunjung makam.

“Waktu awal puasa ramai, bisa dapat 200 sampai 300 ribu, kalau sekarang sudah sepi lagi,” Imbuhnya.

Istri Maxi Nakai ini mengungkapan dirinya harus menjual bunga di areal pemakaman untuk membantu suaminya dalam menghidupi ke empat anaknya.

“Saya sudah lama jualan bunga begini, untuk bantu suami juga kerja,” Tutupnya.

Impian Menyekolahkan Anak Hingga Perguruan Tinggi

Seusai berbincang bersama Yohana, istri Maxi Nakai, kamipun di ajak masuk kedalam rumah papan berukuran 4 kali 5 meter, tidak terlihat kasur yang empuk, yang nampak hanya atap bocor dan tembok kayu rapuh, disinilah Maxi Nakai bersama keluarga berteduh dari hujan dan panas setiap harinya.

“Rumah sudah lama, peninggalan Bapak dulu, makanya sudah bocor bocor,” Tutur Maxi.

Baca juga : Feature: Kisah Pejuang Terang Perbatasan Papua

Hati kamipun sontak terenyuh melihat kondisi kehidupan Maxi Nakai dan keluarganya, jauh dari kehidupan mewah dan dapat di katakan tidak layak, yang ada dalam benak Maxi Nakai adalah tetap bekerja menjaga makam.

“Biar pemerintah tidak gaji saya, saya tetap kasih bersih kuburan,, saya yakin kalau kerja baik nanti tuhan kasih kita balasan,” Ujar Maxi.

Maxi Nakai yang bekerja sebagai penjaga dan penggali makam dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih, memiliki impian agar suatu saat nanti ia akan memperoleh rejeki dari tuhan untuk dapat menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

“Semoga saya kerja ikhlas, nanti tuhan kasih saya rejeki, biar saya punya anak bisa kuliah,” Tutupnya.

Sumber : rri.co.idBerita Selengkapnya…