Kekuatan Pancasila Sangat Islami dan Sejalan Dengan Nilai-nilai Demokrasi Universal

by -236 views

Jaman, Nasional (26/11)- Dalam panel bertopik Challenges for Women in Muslim Countries, The Perspective of Women Muslim Democrats, Eva Sundari politikus PDIP dan Pembina Jaringan kemandirian Nasional (JAMAN) mendiskusikan menguatnya radikalisme sebagai ancaman terhadap perempuan. Dan menyatakan bahwa Kekuatan Pancasila itu sudah sangat islami dan sesuai dengan nilai-nilai Demokrasi Universal yang bisa dipakai bagi negara-negara Muslim di Dunia untuk menangkal Radikalisme.

Eva juga menjelaskan bahwa Ratusan perda yang berisi pembatasan dan pelarangan khusus untuk perempuan berdampak pada menyempitnya kesempatan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan bagi dirinya maupun keluarganya.

“Perda-perda yang diskriminatif tersebut misalnya mengenai pembatasan waktu dan ruang perempuan untuk bergerak berujung pada tingkat kesejahteraan ekonomi perempuan yang lebih rendah dari laki-laki sehingga rendah pula modalitas para perempuan pada tingkat nasional, penetapan minimum umur perempuan untuk menikah yaitu 16 tahun akan tetap menjadi penyumbang terbesar angka kematian ibu melahirkan dan tentu saja penyebab rendahnya partisipasi perempuan di dunia kerja,” ujar Politisi PDI Perjuangan Eva Sundari di Tokyo, (25/11/2016)

Pancasila menurut Eva, sebagai prinsip-prinsip nilai dalam mengembangkan demokrasi di negara muslim karena kekuatan Pancasila yang sangat Islami dan sejalan dengan nilai-nilai demokrasi universal. Jika Pancasila bisa menjadi penangkal radikalisme di Indonesia yang mayoritas muslim, tentu bisa digunakan di negara-negara Islam yang sedang konflik maupun punya potensi konflik karena konflik atau perang saat ini hanya terjadi antar muslim sendiri.

“Kekuatan Pancasila adalah sifat inclusive karena masing-masing sila saling melengkapi sehingga bisa menciptakan perilaku toleransi dalam masyarakat yang majemuk. Sehingga, bisa menjadi solusi bagi adanya global trend dari radikalisme yang dipicu dari sikap dan mentalitas intoleransi yang ekslusif dan dapat berujung pada perilaku terorisme.” Ujar Eva menandasnya.

Dalam panel tersebut ada beberapa narsum dari negara-negara lain yaitu Nurul Izzah Anwar (Parliament Malaysia), Reem Abu Hassan (bekas Mensos Jordan), Yoriko Kawaguchi (mantan MP Jepang), Zahra Saeedi Mobarak (Parliament Iran) dan dimoderatori Ima Abdulrachim dari Habibie Institute. Panel tersebut adalah bagian dari Konferensi dari The Third World Forum for Muslim Democrats di Tokyo, tanggal 24-25 November 2016. (Net/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *