Saturday , August 13 2022
Home / Ekonomi / Volatilitas Keuangan Global Relatif Tinggi, Menkeu: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap kuat

Volatilitas Keuangan Global Relatif Tinggi, Menkeu: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap kuat

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki fundamental yang kuat, meskipun saat ini tengah diterpa gejolak ekonomi global. Ia menyebutkan, saat ini volatilitas di sektor keuangan global masih relatif tinggi.

Sri Mulyani mengungkapkan, perubahan kebijakan di Amerika Serikat (AS) baik di sektor keuangan maupun perdagangan menjadi penyebab utama gejolak tersebut.

“Kebijakan moneter dari Federal Reserve yang meningkatkan suku bunga yang dianggap sebagai suatu level normal yang baru, maupun kebijakan di bidang perdagangan di Amerika Serikat dan Tiongkok menimbulkan sentimen eskalasi dari ketegangan hubungan dagang antara Amerika dengan Tiongkok maupun dengan berbagai negara lain,” jelasnya saat Konferensi Pers APBN KiTa (Kinerja dan Fakta) edisi Mei di Aula Djuanda Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (17/05).

Menurutnya, kenaikan suku Bungan The Fed menimbulkan dampak terhadap berbagai indikator di tingkat global. Pertama, yaitu harga komoditas yang menunjukkan kenaikkan karena risiko geo-politik. Hal ini termasuk perjanjian nuklir AS dengan Iran, maupun kenaikan demand sementara dari sisi supply-nya tertahan.

Kedua, terdapat arus modal yang keluar dari banyak negara-negara berkembang dan emerging, yang dipicu oleh suku bunga US Treasury Bond 10 Tahun yang mencapai angka 3%.

Selain itu, dampak lain yang terjadi adalah depresiasi mata uang negara-negara di dunia terhadap dollar Amerika. Ia menyontohkan, mata uang Eropa yang mengalami depresiasi 1 %, Rusia 9%, Brazil 9%, dan Filipina 4%.

“Rupiah kita dalam hal ini juga mengalami depresiasi meskipun dalam tingkat yang lebih rendah yaitu sampai dengan 9 Mei 3,88% dibandingkan posisi akhir tahun 2017. Kalau dibandingkan pada tahun 2017 rupiah terdepresiasi sekitar 2% dari Rp 13,384 ke Rp 13,655 per dollar AS,” terang Sri Mulyani.

Meskipun demikian, dalam gejolak tersebut perekonomian Indonesia masih memiliki fundamental yang kuat. Perekonomian Indonesia pada triwulan I tumbuh 5,06 persen, lebih tinggi dibanding kinerja pada triwulan I 2017 sebesar 5,01 persen.

Menurut Sri Mulyani, pertumbuhan ini ditopang oleh oleh tiga komponen yang mengalami penguatan yaitu konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah dan investasi.

“Konsumsi rumah tangga tumbuh dari 5,00 persen menjadi 5,01 persen, konsumsi pemerintah dari 2,69 persen pada kuartal I tahun lalu tahun ini tumbuh menjadi 2,73 persen, serta Investasi yang kuartal I tahun lalu tumbuh 4,77 persen tahun ini menjadi 7,95 persen,” tuturnya.

 

Sumber: www.kemenkeu.go.id

Editor: Eva Ulpiati

About redaksi

Check Also

RI Terapkan DMO Migor Usai Cabut Larangan Ekspor CPO

Jamaninfo.com, Ekonomi – Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa ekspor minyak goreng dan minyak sawit mentah (CPO) akan …

Leave a Reply

Your email address will not be published.