Jamaninfo.com, JAKARTA, 5 Januari 2026 – Ketua bidang internasional Dewan Pimpinan Pusat Jaringan Kemandirian Nasional (JAMAN), Xaveria Rinisko H, menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan militer sepihak Amerika Serikat terhadap Venezuela yang di nilai sebagai bentuk nyata pelanggaran terhadap prinsip kedaulatan negara dan hukum internasional. Dalam pernyataan resminya yang di sampaikan dari Jakarta, ketua DPP JAMAN bidang internasional menyebut serangan tersebut sebagai bentuk “imperialisme gaya baru” yang membahayakan tatanan dunia yang adil dan setara.
“Jika dunia membiarkan satu negara bertindak sebagai hakim, juri, dan algojo atas nasib bangsa lain, maka kita sedang membuka pintu menuju era barbarisme modern yang di bungkus dengan retorika demokrasi dan HAM,” tegas Xaveria Rinisko H.
Ledakan, Penangkapan, dan Pengambilalihan: Fakta atau Kudeta Global?
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela mencapai titik didih pada Sabtu pagi, 3 Januari 2026. Serangkaian ledakan mengguncang ibukota Caracas dan sejumlah instalasi penting, baik sipil maupun militer. Pemerintah Venezuela segera mendeklarasikan keadaan darurat nasional. Namun yang mengejutkan dunia adalah laporan penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores, yang di kabarkan telah di terbangkan ke lokasi yang di rahasiakan di luar negeri.
Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, mengkonfirmasi keterlibatan langsung negaranya dalam operasi militer tersebut. Ia menyebut bahwa Amerika Serikat “berhasil melancarkan serangan besar-besaran” dan akan “mengelola Venezuela hingga transisi yang aman terjamin,” termasuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang di sebutnya “rusak”.
Pernyataan ini menandai eskalasi yang tidak hanya bersifat militer, tetapi juga politik dan ekonomi. Dalam satu langkah, AS tidak hanya menyingkirkan pemerintahan yang sah, tetapi juga menyatakan niat untuk mengambil alih pengelolaan sumber daya strategis Venezuela.
JAMAN: Dunia Harus Bangkit Melawan Hegemoni
Menurut Xaveria, tindakan ini bukan hanya serangan terhadap Venezuela, tetapi juga terhadap seluruh prinsip dasar hubungan internasional yang menjunjung tinggi kedaulatan, non-intervensi, dan kesetaraan antarbangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara besar dan berdaulat harus mengambil sikap tegas.
“Diamnya dunia adalah bentuk persetujuan. Indonesia tidak boleh menjadi bagian dari kebungkaman global ini. Kita harus berdiri bersama Venezuela dan semua bangsa yang menolak dominasi kekuatan imperialis,” ujar ketua bidang Internasional DPP JAMAN Xaveria Rinisko H.
Ia juga mengingatkan bahwa pembiaran terhadap tindakan semacam ini akan menciptakan preseden berbahaya, di mana negara-negara kuat merasa memiliki legitimasi moral dan politik untuk mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain atas nama demokrasi atau stabilitas.
Analisis: Kudeta Global dan Politik Minyak
Banyak pengamat menilai bahwa motif utama di balik serangan ini bukanlah demokrasi atau hak asasi manusia, melainkan kontrol atas minyak. Venezuela di kenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan selama bertahun-tahun telah menjadi target tekanan ekonomi dan diplomatik dari Amerika Serikat.
Menurut data dari OPEC, Venezuela memiliki cadangan minyak sebesar 303,8 miliar barel, jauh melampaui Arab Saudi dan Iran. Namun, sanksi ekonomi yang di jatuhkan oleh AS sejak 2017 telah melumpuhkan sektor energi Venezuela, menciptakan krisis ekonomi yang parah.
“Ini bukan tentang demokrasi. Ini tentang minyak. Ini tentang siapa yang mengendalikan energi dunia,” ujar Dr. Maria Fernanda, pakar geopolitik dari Universidad Central de Venezuela.
Seruan untuk Aksi Global
JAMAN menyerukan kepada pemerintah Indonesia, ASEAN, dan komunitas internasional untuk:
- Mengutuk secara terbuka tindakan militer sepihak AS terhadap Venezuela.
- Mendorong pembentukan tim investigasi independen di bawah naungan PBB untuk menyelidiki pelanggaran hukum internasional.
- Memperkuat solidaritas Global South dalam menghadapi dominasi kekuatan besar.
- Mendorong embargo diplomatik terhadap negara-negara yang mendukung intervensi militer ilegal.
Penutup: Saatnya Dunia Berkata “Cukup!”
Kejadian di Venezuela adalah cermin dari dunia yang semakin kehilangan arah moral. Ketika kekuatan militer menjadi alat utama dalam menyelesaikan konflik politik, maka kita sedang menyaksikan kemunduran peradaban. Dunia tidak boleh diam. Indonesia tidak boleh diam.
“Kita tidak sedang berbicara tentang Venezuela saja. Kita sedang berbicara tentang masa depan dunia yang adil, bebas, dan berdaulat,” tutup Xaveria Rinisko H.(*)






