Home / Opini / Mendekatkan Jarak Tempuh antara Wamena-Jayapura adalah Kebutuhan
Kredit foto: www.ceposonline.com

Mendekatkan Jarak Tempuh antara Wamena-Jayapura adalah Kebutuhan

Patut diberikan acungan jempol buat Presiden Joko Widodo karena dibawah kepemimpinannya jalan tempuh Jayapura sudah terhubung . Jalan tembus Wamena-Jayapura tersebut sudah lama dirintis sejak 1982 pada masa pemerintahan Orde Baru .

Sempat terhubung lalu diresmikan secara simbolis oleh Wakil Presiden RI Tri Sutrisno tahun 1991, namun tidak pernah berfungsi karena tertutup kembali oleh gangguan alam (tertutup longsoran tanah).

Nasib jalan tersebut kemudian dilupakan tertutup hutan kembali hingga kurang lebih 36 tahun lamanya. Baru jaman pemerintahan Jokowi nasib jalan Wamena-Jayapura kini kembali dibuka dan sudah terhubung walaupun masih 60% dikerjakan.

Perlu diketahui bahwa dibangunnya jalan tembus Wamena-Jayapura ini merupakan kebutuhan pembangunan dan impian banyak orang. Namun tidak pernah terealisasi tuntas biarpun pernah dirintis oleh rejim yang berkuasa ketika itu. Rupanya sengaja ditinggalkan nasib jalan tersebut merana tanpa terurus oleh pihak berwenang.

Masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jalan Wamena-Jayapura malah tidak terakomodasi dalam agenda perioritas 17 ruas jalan strategis yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

Untuk membuka isolasi wilayah pegunungan tengah, pemerintahan presiden SBY justru mulai bergerak dari arah selatan masuk wilayah pegunungan tengah. Dengan merintis bangun ruas jalan Yuguru – wamena dimana jalan tersebut sudah terhubung.

Namun dari sisi nilai strategisnya jalan wamena – jayapura lebih strategis dari pada ruas jalan Wamena – Juguru. Oleh karena ruas jalan Wamena – Jayapura akan dihubungkan dengan Jayapura sebagai ibu kota Provinsi Papua, dan juga akan dilewati beberapa Kabupaten yaitu Kabupaten Keerom, Yalimo dan beberapa sepanjang ruas jalan tersebut. Selain itu dari sisi jarak tempuh relatif lebih pendek dan kemudian dari sisi keamanan relatif lebih terjamin dari pada ruas jalan Wamena – Yuguru.

Maka terhubungnya ruas jalan Wamena – Jayapura , jalan akan berfungsi strategis sebagai prasarana utama dalam mendistribusi pergerakan kebutuhan pembangunan wilayah pegunungan tengah yang meliputi 8 Kabupaten Sekaligus yaitu Kabupaten Jayawijaya, Yalimo, Yahukimo, Mamberamo Tengah, Tolikara, Lani Jaya, Puncak Jaya, Nduga dan Puncak.

Kota Wamena menjadi titik sentral dan menjadi kota transistor bagi kabupaten lainnya . Memang merubah wilayah pegunungan tengah harus dimulai dari wamena. Hal ini sejalan dengan konsep filosofi budaya perjalanan hidup manusia pegunungan tengah dimana lemah baliem kota wamena saat ini merupakan tempat persebaran suku – suku orang pegunungan tengah yang tersebar kearah timur, barat, utara dan selatan yang meliputi suku dani, lani, yali dan nduga.

Dengan menyadari pentingnya pembangunan ruas jalan Wamena – Jayapura ini maka berkali – kali dalam berbagai kesempatan saya terus menyuarakan untuk sekiranya pemerintah harus mendapat perhatian kembali nasib jalan Wamena – Jayapura. Terakhir pada 29 Desember 2014 saat kunjungan kerja presiden Jokowi kewamena , segera saya mengkoordinir para kepala suku dan para tokoh adat Jayawijya untuk mendesak presiden Jokowi agar jalan Wamena – Jayapura segera dihubungkan. Ternyata Bapak Presiden Jokowi telah mendengar desakan para tokoh adat tersebut dan kemudian ruas jalan Wamena – Jayapura mulai ditangani dan kini sudah terealisasi.

Padahal sebelumnya selama saya berteriak untuk dibuka kembali jalan wamena – jayapura, selalu mendapat jawaban oleh Kementerian PU maupun oleh UP4B ketika itu kalau jalan Wamena – Jayapura memiliki tantangan topografi tergolong berat dibanding ruas jalan Yuguru – Wamena relatif mudah ditembus.

Saya hampir tidak mengerti konsep berpikir orang -orang yang saya temui itu. Jalan wamena – Jayapura sesungguhnya sudah pernah tembus sejak 1991. Tetapi hanya karena alasan takut menghadapi tantangan alam kemudian tidak mau melanjutkan jalan Wamena – Jayapura sebagai bagian dari agenda program prioritas. Pada hal biarpun ada tantangan, justru presiden Jokowi mampu menantang tantangan alam yang menghalang ruas jalan tersebut dan kini berhasil tembus.

Sebuah prestasi tersendiri bagi presiden Jokowi ketika ruas jalan Wamena – Jayapura mulai fungsional. Sebab Jalan ini akan berpengaruh strategis dalam rangka perubahan pembangunan di wilayah pegunungan tengah. Akan memperlancar dan mempermudah arus barang dan jasa maupun manusia. Menurunkan harga barang pembangunan dari selama ini masih mencekik leher diluar batas kewajaran. Pergerakan isolasi wilayah semakin terbuka. Persebaran pembangunan semakin merata. Pertumbuhan ekonomi semakin meningkat. Jangkauan pembangunan kepada rakyat semakin mendekat . Begitu banyak keuntungan dengan berfungsinya jalan Wamena – Jayapura ini. Karena itu satu hal yang harus diperhatikan adalah pengawasan.

Tentu dengan terhubungnya jalan ini tak terlepas akan diikuti dengan pengaruh negatif yang memanfaatkan peluang bisnis barang haram atau barang terlarang , seperti penyelundupan miras, narkoba,  curamor , ganguan keamanan dan lain – lain.

Oleh karena itu menjadi tanggung jawab bersama antara aparat keamanan dan seluruh masyarakat untuk memperketat pengawasan disetiap pintu masuk. Setiap arus keluar – masuk barang dan orang harus diperiksa dengan ketat. Hal ini harus menjadi komitmen bersama dan jika perlu ditetapkan dalam bentuk peraturan daerah agar mengikat untuk semua komponen masyarakat tunduk pada aturan tersebut.

Saya secara pribadi sampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden Jokowi , sebab hanya karena dalam kepemimpinan Jokowi jalan Wamena – Jayapura ini bisa terhubung. Sudah lama kami merindukan jalan ini bisa tembus tetapi selama itu pula para pemimpin ketika itu seperti tidak berdaya menjawab kerinduan kami. Sekarang pak Jokowi sanggup menjawab kerinduan kami. Tuhan memberkati Bapak Jokowi dan selamat menikmati bagi semua pengguna jasa jalan ini.

 

Paskalis Kossay

Eks Anggota DPR RI asal Papua

About redaksi

Check Also

Mencermati Persoalan Defisit Neraca Transaksi Berjalan

Hingga semester I-2018, neraca transaksi berjalan Indonesia masih menghadapi tekanan. BI menyatakan defisit neraca transaksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *