Mengembalikan Kejayaan Maritim Bumi Sriwijaya 

by -226 views

Oleh : Agus Shalahuddin 

Jaman, Opini (7/1)- Kerajaan Sriwijaya mengalami masa kejayaan yang begitu pesat dari abad ke-8 hingga abad ke-10,  berkat usaha mereka dalam menaklukkan berbagai daerah di Asia Tenggara.

Sriwijaya berhasil memperluas daerah perbatasan mereka dan menjadikan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat Maritim dan perdangan di Asia.

Mendominasi kawasan Selat Sunda dan Selat Malaka. Pada dua selat yang menjadi pusat perdangan rempah-rempah tersebut, Armada Sriwijaya mengenakan bea cukai.

Kapal-kapal yang datang dari berbagai penjuru seperti India dan Tiongkok menjadikan Sriwijaya semakin bertambah makmur.

Sriwijaya juga menjalin hubungan dagang dengan tanah Arab dan di abad ke-10 Sriwijaya semakin banyak mendapatkan keuntungan dari pertalian dagang antara lain dengan Negeri Cina. Dari situ Sriwijaya juga mulai mengenal yang namanya buah Semangka.

Sriwijaya membangun kekuasaan atas laut. Tidak seperti Romawi yang menaklukkan negeri-negeri, Sriwijaya  cenderung membiarkan kekuasaan politik atas daratan seperti apa adanya. Sriwijaya lebih tertarik pada lautan, yang memang merupakan fitur utama bentang alam Nusantara. Beratus-ratus tahun menjaga agar lautan Nusantara selalu bebas dan terbuka bagi siapapun untuk saling berkomunikasi dan berdagang.

 Pada tahun 683, Jayanasa memimpin suatu balatentara yang terdiri dari 300-an pelaut dan 1000-an infanteri untuk menaklukkan Palembang dan Jambi. 

Dengan takluknya kedua kota yang berada di tepian dua sungai besar Musi dan Batanghari, yang keduanya bermuara di Selat Karimata, maka dimulailah kisah kejayaan selama hampir 700 tahun. Kisah Kemaharajaan Sriwijaya. Jayanasa, kemudian bergelar Dapunta Hyang Sri (Maharaja) Jayanasa.

 Palembang dan Jambi di jaman kuno adalah pusat-pusat perdagangan antarbangsa yang sangat ramai. Terletak pada jalur perdagangan utama dunia yang melalui Selat Malaka di utara, terus ke selatan memasuki Selat Karimata, berbelok ke timur melewati Laut Jawa, terus menuju kepulauan rempah-rempah di timur Nusantara.

Pada puncak kejayaannya di abad ke-12, Mandala Sriwijaya meliputi seluruh wilayah lautan di sekeliling pesisir Sumatra, Jawa, Semenanjung Malaya, pesisir timur Indocina, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Kepulauan Filipina sebelah selatan,  terutama Kepulauan Sulu dan Visayas.

Sriwijaya menjadikan lautan Nusantara—bukan daratannya—sebagai ‘tumpah-darah’ yang sejati.

Mempersatukan kota-kota dagang di bawah pengaruhnya dalam satu Bahasa Persatuan, yaitu Melayu Kuno, yang merupakan Bahasa Austronesia Kuno dan cikal-bakal Bahasa Indonesia. 

Sriwijaya, dengan kota Palembang sebagai pusatnya, adalah contoh terbaik dimana  kedaulatan dan kejayaan dibangun melalui laut.

Mudah-mudahan, semua kisah di atas memberi semangat dan inspirasi bagi kita semua.(Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.