Home / Politik / PDIP Kaget, Tim Prabowo-Sandi Lunturkan Bahasa Nasional
Kredit foto: http://nawacita.co

PDIP Kaget, Tim Prabowo-Sandi Lunturkan Bahasa Nasional

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Hasto Kristiyanto mengaku kaget dengan usulan Tim Kampanye pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 2 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang mengajak debat kandidat dengan menggunakan bahasa Inggris.

Debat dengan menggunakan bahasa asing melanggar Undang-Undang,” tandas Hasto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (22/9).

Hasto menjelaskan, PDI Perjuangan menanggapi serius usulan tersebut. Pasalnya, seluruh tim kampanye dari pasangan mana pun seharusnya menempatkan rasa cinta tanah air, kebanggaan terhadap jati diri dan kebudayaan bangsa serta sejarah kemerdekaan bangsa sebagai prinsip yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan ambisi kekuasaan.

“Sebab sejarah mengajarkan bahwa bangsa Indonesia bersatu karena semangat kebangkitan nasional dan sumpah pemuda. Lalu bagaimana mungkin semangat menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia, kini direduksi sebagai sekedar ketrampilan berbahasa asing?” ucapnya.

Menurut Hasto, usuan tim kampanye Prabowo-Sandi tersebut kontrapoduktif dengan semangat Sumpah Pemuda. “Apakah ini karena issue yang beredar bahwa Tim Kampanye Prabowo-Sandi di back-up oleh konsultan asing?” tambahnya.

Hasto menerangkan, debat kandidat Capres dan Cawapres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) merupakan bagian dari kegiataan kenegaraan. Bahkan, kegiatan kenegaraan juga diwajibkan untuk menggunakan bahasa Indonesia.

“Jadi usulan ini jelas melanggar Undang-undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Jadi kita mempertanyakan usul yang jelas jauh dari memperkuat semangat kebangsaan di tengah era globalisasi saat ini,” terangnya.

Hasto menegaskan, hal yang dilakukan oleh petahana, Joko Widodo, yang menampilkan warna kebudayaan Indonesia dalam pembukaan Asian Games 2018 adalah watak yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin bangsa.

“Apa yang dilakukan pak Jokowi dengan membangun dari pinggiran dan menjadikan kawasan perbatasan sebagai halaman depan NKRI adalah cermin rasa cinta pada tanah air. Sikap lebih memilih rupiah daripada menimbun mata uang asing juga contoh watak terpuji bagi pemimpin,” tegasnya.

Ia juga menuturkan bahwa di era kolaborasi dan persaingan antar bangsa terjadi sekaligus, setiap pemimpin negeri, terlebih capres dan cawapres seharusnya kokoh dan bangga dengan identitas nasionalnya. “Bukannya menampilkan hal-hal yang justru menggerus nasionalisme kita,” tukas Hasto.

Hasto mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk memperkuat nasionalisme Indonesia, terutama di era milenial seperti saat ini. “Tim Kampanye Prabowo-Sandi belajarlah dengan Nadiem Makaramim, Iman Usman, Belva Devara, Wishnutama, Erick Tohir dan  tokoh-tokoh muda lainnya yang dengan caranya menunjukkan semangat bangga dengan Indonesia,” pungkasnya.

 

Reporter: Eko “Gajah”

About redaksi

Check Also

JAMAN: Sanksi Sosial untuk Penyebar ‘Hoax’

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akhirnya berhasil mengungkap kebohongan yang dilakukan oleh Juru Kampanye Nasional (Jurkamnas) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *