Jamaninfo.com, JAKARTA — Memasuki 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk kembali menegaskan makna kemerdekaan. Seruan tersebut disampaikan dalam Sarasehan Kemerdekaan bertajuk “Demokrasi dan Amanat Kemerdekaan Menuju Indonesia Adil dan Makmur” yang digelar di Jakarta, 11 Agustus 2026.
GNB menegaskan bahwa kemerdekaan tidak semata-mata dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan asing. Kemerdekaan juga harus berarti kebebasan setiap warga negara untuk berpendapat, berserikat dan berkumpul, sekaligus terbebas dari kebodohan, kemiskinan, intimidasi dan persekusi.
Selain itu, kemerdekaan harus memberikan ruang bagi seluruh rakyat untuk berpartisipasi dalam mengelola negeri. Menurut GNB, kemerdekaan sejati dapat diukur dari sejauh mana keadilan dan kemakmuran benar-benar terwujud dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dalam sarasehan tersebut, GNB menyampaikan Delapan Pesan Kemerdekaan sebagai refleksi sekaligus ajakan bagi seluruh elemen bangsa.
Pertama, keadilan dan kemakmuran menjadi tujuan berbangsa dan bernegara. GNB menilai ukuran kemerdekaan bukan hanya berkurangnya jumlah warga miskin, tetapi juga sejauh mana keadilan hadir dalam berbagai dimensi kehidupan. Kemerdekaan baru memiliki makna penuh apabila keadilan dan kemakmuran dapat dirasakan seluruh rakyat, bukan hanya segelintir golongan.
Kedua, rasa aman warga merupakan ukuran nyata kemerdekaan. GNB menyoroti pentingnya perlindungan terhadap keamanan fisik, penghidupan, martabat, serta sumber daya alam dan lingkungan hidup. Negara diharapkan hadir sebagai pelindung, termasuk dalam menghadapi persoalan kriminalisasi dan kekerasan terhadap aktivis serta jurnalis.
Ketiga, demokrasi dan hukum harus kembali berpijak pada kedaulatan rakyat. GNB mengingatkan agar pembuatan kebijakan dan perubahan undang-undang tidak dilakukan secara tergesa-gesa dan tertutup. Penegakan hukum juga harus konsisten serta tidak menjadi alat tukar kepentingan.
Keempat, profesionalitas TNI-Polri harus dijaga sebagai fondasi demokrasi. GNB menegaskan pentingnya supremasi sipil sebagai prasyarat pemerintahan yang akuntabel, transparan dan partisipatif. Pelibatan aparat pertahanan dan keamanan di luar tugas serta fungsi utamanya dinilai perlu dihindari dan aparat tidak boleh menjadi alat politik praktis.
Kelima, sumber daya alam dan anggaran publik harus diarahkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. GNB menyerukan penghentian eksploitasi lingkungan yang merusak kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat, termasuk masyarakat adat. GNB juga menekankan pentingnya prioritas belanja publik serta penguatan produk domestik dan pengurangan ketergantungan terhadap impor.
Keenam, etika dan keteladanan pemimpin merupakan fondasi yang tidak dapat ditawar. GNB menilai menurunnya kepercayaan rakyat kepada pemerintah berkaitan dengan krisis kepatutan dan hilangnya keteladanan di kalangan penyelenggara negara. Pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dinilai harus diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk penindakan tegas dan pengembalian aset kepada negara.
Ketujuh, pendidikan, kesehatan dan kualitas sumber daya manusia merupakan investasi masa depan bangsa. GNB menilai peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang merata sangat penting untuk membangun generasi yang sehat, cerdas dan berintegritas. Pendidikan juga dinilai perlu memperkuat aspek budi pekerti dan karakter, sementara layanan kesehatan dan kesejahteraan bagi lansia perlu dipersiapkan.
Kedelapan, masyarakat sipil merupakan pelaku dalam menciptakan demokrasi, bukan sekadar penonton. GNB mendorong organisasi masyarakat sipil, komunitas agama, kampus, media dan warga untuk terus memperkuat kesadaran publik serta menjembatani suara rakyat dengan pengambil kebijakan.
GNB menegaskan bahwa delapan pesan tersebut bukanlah sebuah penutup, melainkan ajakan untuk memulai langkah bersama dalam merawat cita-cita kemerdekaan.
“Gerakan Nurani Bangsa mengajak segenap elemen bangsa, penyelenggara negara, dunia usaha, tokoh agama, kalangan kampus, media, dan warga, untuk bersama merawat cita kemerdekaan menuju Indonesia yang adil dan makmur,” demikian pesan GNB.
Sejumlah sesepuh bangsa dan anggota Gerakan Nurani Bangsa, antara lain Prof. H. Emil Salim, Prof. Dr. Moh Mahfud MD, Maria Hartiningsih, Nyai Hj. Sinta Nuriyah A. Wahid, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo, Franz Magnis-Suseno, SJ, Dr. (HC) H. Lukman Hakim Saifuddin, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Laode Muhammad Syarif, Ph.D., serta Alissa Q. Wahid.Alternatif.(*)






