Home Rilis Film “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” Angkat Isu Anti-Bullying, Libatkan Pelajar...

Film “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” Angkat Isu Anti-Bullying, Libatkan Pelajar Kuningan dalam Open Casting

33
0
SHARE


Jamaninfo.com, KUNINGAN, Jawa Barat — 13 Agustus 2026 — Film layar lebar “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” hadir membawa pesan kuat tentang pentingnya persahabatan dan kepedulian terhadap isu perundungan di lingkungan pendidikan.


Film ini tidak hanya diarahkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai gerakan sosial melalui sinema yang menyasar pelajar usia 11 hingga 18 tahun. Proyek yang dikembangkan melalui kolaborasi Keraton Kasepuhan Cirebon dan mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Kuningan tersebut membuka kesempatan bagi pelajar SMP dan SMA untuk terlibat langsung melalui open casting.


Perundungan Menjadi Perhatian Serius
Lahirnya film ini tidak terlepas dari perhatian terhadap persoalan perundungan di lingkungan pendidikan. Dokumen produksi mencatat data KPAI sekitar 3.800 kasus perundungan sepanjang 2023, sementara laporan JPPI menyebut terdapat 573 kasus kekerasan di sekolah pada 2024, dengan 31 persen di antaranya berkaitan dengan perundungan.


Data tersebut memperkuat urgensi hadirnya berbagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk melalui pendekatan edukasi dan kampanye sosial.
Persahabatan sebagai Bentuk Perlawanan
Berbeda dari cerita yang hanya menampilkan penderitaan korban, “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” mencoba menghadirkan perspektif bahwa persahabatan dan empati dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi perundungan.


Film ini mengangkat kisah tentang bagaimana ego dapat runtuh ketika seseorang mulai memahami perasaan orang lain. Pesan yang ingin disampaikan sederhana: anak-anak tidak perlu menjadi lawan untuk dianggap keren, tetapi dapat menjadi sahabat yang saling menguatkan.


“Dampak buruk perundungan sering kita baca di berita, tapi lewat film ini kami ingin penonton—terutama pelajar—merasakannya secara langsung. Kami ingin mereka sadar bahwa di sekolah, lingkaran pertemanan terbaik bukanlah yang paling ditakuti, melainkan yang paling mampu merangkul,” ujar tim produksi dalam persiapan syuting di Kuningan.


Didukung Aktor Nasional dan Pemerintah Kabupaten Kuningan
Dukungan terhadap proyek film ini juga datang dari sejumlah aktor nasional. Farid Ongky dan Dede Satria turut memberikan motivasi kepada peserta open casting.


Keterlibatan para praktisi perfilman tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal dunia perfilman sekaligus menyuarakan isu kesehatan mental dan perundungan melalui karya sinema.


Sementara itu, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar, S.Sos., M.Si. disebut memberikan dukungan terhadap kehadiran film tersebut. Produksi film sekaligus diharapkan dapat menjadi sarana promosi potensi pariwisata Kabupaten Kuningan.


Sejumlah lokasi wisata direncanakan menjadi bagian dari latar pengambilan gambar, antara lain kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Cibulan, Curug Putri Palutungan, serta kawasan sejarah Linggarjati.


Dari Layar Lebar Menuju Ruang Kelas
Tim produksi memiliki target jangka panjang agar film tersebut tidak berhenti pada penayangan di bioskop. Salah satu gagasan yang sedang didorong adalah menjalin kolaborasi dengan pihak pendidikan sehingga film dapat dimanfaatkan sebagai bahan pemantik diskusi mengenai perundungan, persahabatan, dan kesehatan mental remaja.


Namun, dokumen produksi mencatat bahwa saat ini belum terdapat satu skema resmi yang mewajibkan film edukasi tertentu diputar di sekolah. Karena itu, jalur yang dinilai realistis adalah melalui kemitraan dengan Dinas Pendidikan serta pihak terkait lainnya.


“Sekolah adalah panggung pertama di mana anak belajar memaknai persahabatan dan keberbedaan. Jika film ini bisa memicu diskusi sehat antara guru, murid, dan orang tua, misi kami sudah tercapai setengah jalan,” ungkap tim produksi.


Pelajar Kuningan Mendapat Kesempatan Tampil
Open casting film ini dilaksanakan secara gratis. Setelah sesi awal di Jakarta pada awal Agustus 2026, proses casting dilanjutkan di Kabupaten Kuningan.
Peserta yang ditargetkan adalah pelajar SMP dan SMA berusia 11–18 tahun yang memiliki keinginan untuk menyampaikan pengalaman, gagasan, maupun ekspresi mereka melalui dunia perfilman.
Sementara itu, proses produksi ditargetkan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.


Membawa Pesan Sederhana: Jadilah Sahabat
Film “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” pada akhirnya ingin menyampaikan pesan bahwa lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk bertumbuh.
Bagi para kreatornya, persahabatan dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya saling merendahkan. Anak tidak membutuhkan lawan untuk terlihat kuat atau keren. Mereka membutuhkan lingkungan pertemanan yang mampu menerima, memahami, dan saling menguatkan.


Di tengah perhatian yang semakin besar terhadap persoalan perundungan di sekolah, film ini diharapkan dapat menjadi salah satu karya yang mendorong percakapan lebih luas antara pelajar, guru, orang tua, dan masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari perundungan.


Tentang Film
“Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” merupakan film layar lebar yang mengangkat isu perundungan dan kesehatan mental remaja. Film ini diproduksi melalui kolaborasi Keraton Kasepuhan Cirebon dan didukung Pemerintah Kabupaten Kuningan, sekaligus membuka kesempatan bagi pelajar SMP dan SMA untuk terlibat langsung dalam produksi film.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here