Thursday , December 12 2019
Home / Pangan / Tak Ada Impor Cabai Sejak 2016, Petani Demak Minta Maaf pada Pemerintah
Kredit foto: https://radarlombok.co.id

Tak Ada Impor Cabai Sejak 2016, Petani Demak Minta Maaf pada Pemerintah

Petani cabai Desa Jerukgulung Kecamatan Dempet Kabupaten Demak, Jawa Tengah, meminta maaf kepada pemerintah khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) atas aksi membuang cabai di jalan yang digelar beberapa hari lalu.

Bahkan, petani kini menolak pernyataan yang menyebutkan adanya impor cabai karena pada kenyataannya tidak ada impor cabai segar sejak 2016.

“Kami mohon maaf kepada Pemerintah dan seluruh masyarakat atas kejadian kemarin, saat kami khilaf membuang cabai di jalan. Kejadian tersebut karena spontanitas, dan kami menyadari perbuatan tersebut tidak etis dan justru membuat kami menjadi malu,” kata Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Sugiyono yang mewakili petani cabai Desa Jerukgulung secara resmi melalui Pernyataan Petani Cabai Kabupaten Demak, Minggu (13/1).

Sugiyono menyatakan bahwa petani juga meralat dan mengoreksi pernyataan sikap yang dirilis sebelumnya mengenai impor cabai. “Kami memohon maaf juga, meralat dan koreksi, kemarin ada pernyataan ada impor padahal sebenarnya sejak 2016 sampai sekarang tidak ada impor cabai segar,” tambahnya.

Sugiyono mengakui bahwa sebenarnya perhatian dan bantuan pemerintah pusat melalui Kementan untuk petani cabai sangat luar biasa. Menurutnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman sangat sigap membantu menyelesaikan masalah di lapangan dengan tuntas dan sangat cepat.

Ia mengungkapkan, Kementan telah memberikan bantuan sesuai usulan dan permohonan dari petani. Sejumlah bantuan dan fasilitas kemitraan, juga jaminan pasar diupayakan agar petani cabai tetap produktif dan bisa memenuhi kesejahteraanya.

“Sesuai usulan dan permohonan kami, malam ini kami sudah difasilitasi kemitraan pemasaran dengan TTI (Toko Tani Indonesia – red) dan PT. Indofood CBP, juga diserap untuk industri sambal sehingga akan meningkatkan pendapatan kami dan membantu stabilnya harga,” ungkapnya.

Tak hanya itu, tambah Sugiyono, petani juga berterimakasih karena Cabai Merah Keriting dari petani Desa Jerukgulung, Kecamatan Dempet sudah dibeli dengan harga Rp 18.000 per kilogram sebagai jalan kekuar.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak termasuk Bapak Menteri Pertanian Andi Amran, Gubernur Jawa Tengah dan Bupati Demak. Solusi ini diluar dugaan kami sebelumnya,” pintanya.

Oleh karena itu, Sugiyono atas nama petani cabai Demak berjanji tidak mengulangi lagi dan akan lebih banyak melakukan diskusi dan dialog untuk mencari solusi seperti ini.

Selain itu, akan mengikuti anjuran manajemen tanam dari pemerintah, meningkatkan efisiensi biaya, meningkatkan kualitas hasil. “Selain itu juga, kami sudah menandatangani MoU bermitra dengan TTI dan PT Indo Food CBP serta akan menjual melalui pasar lelang cabai sebagaimana telah dilakukan di daerah sentra lain seperti Sleman, Kulonprogo, Magelang dan lainnya,” sebutnya.

Dengan cara itu, sambung Sugiono, petani bisa memperoleh harga tertinggi dari penawar yang ada, menerima uang secara tunai dan harga bisa sama standar dalam satu wilayah. Selanjutnya petani akan terus berkomitmen memajukan pangan dan pertanian sebagai ladang hidup.

“Sekali lagi kami mengaku sangat malu dan mohon maaf yang sebesar besarnya atas kejadian ini. Semoga ke depan menjadi lebih baik,” akuinya. “Untuk itu, kami meminta agar seluruh video dan berita tidak benar yang sudah beredar di media agar dihapus dan diralat,” pinta Sugiyono.

Perlu diketahui, Sugiyono bersama petani cabai lainnya menggelar aksi buang puluhan kilogram cabai merah, di Jalan Raya Demak-Purwodadi pada hari Jumat sore (11/1/2019).

Sumber: https://jpp.go.id

Editor: Puput KJ

About redaksi

Check Also

Ciptakan SDM Unggul, Pemerintah Tekan Angka Stunting di Indonesia

Ciptakan SDM Unggul, Pemerintah Tekan Angka Stunting di Indonesia

JamanInfo.com – Jakarta (31/10), Pembangunan sumber daya manusia merupakan salah satu program prioritas di periode …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *